Rabu, 12 Januari 2011

Verba

BAB I
PEMBAHASAN

1. Hakikat Verba

1) Versi Tradisional
Dalam tatabahasa tradisional(Verhaar, 1997:83-85), jenis kata ialah golongan kata yang mempunyai kesamaan bentuk, fungsi, dan perilaku sintaksisnya.
Kata kerja (verba) adalah semua kata yang menyatakan perbuatan atau laku. Misalnya: mengetik, mengutip, meraba, mandi, makan, dan lain-lainnya.
2) Versi Keraf
Dalam penjenisan kata, Gorys Keraf (1970) menggunakan kriteria kesamaan morfem-morfem yang membentuk kata-kata itu, atau juga kesamaan ciri dan sifat dalam membentuk kelompok katanya.
Kata kerja (verba) adalah segala macam kata yang dapat diperluas dengan kelompok kata "dengan + kata sifat". Misalnya:
membaca dengan teliti
berjalan dengan cepat
duduk dengan santai
belajar dengan rajin
3) Versi Ramlan
Dalam buku Pedoman Penulisan Tata Bahasa Indonesia (Editor Rusyana & Samsuri, 1976), M. Ramlan mengemukakan bahwa penggolongan kata dalam tatabahasa struktural tidak ditentukan berdasarkan arti, melainkan secara gramatikal, berdasarkan sifat atau perilakunya dalam membentuk satu golongan kata.
Menurut versi Ramlan, kata kerja adalah golongan dari kata ajektiva yaitu semua kata yang tidak dapat menduduki tempat objek, dan yang dinegatifkan dengan kata tidak. Kata golongan ini dapat juga dinegatifkan dengan kata bukan apabila dipertentangkan dengan keadaan lain. Misalnya:
Ia bukan menulis, melainkan menggambar.
Kata kerja, kata ajektival yang dapat didahului oleh kata boleh, misalnya: makan, belajar, tidur, mandi, dan lain-lainnya.
Kata kerja, berdasarkan kemungkinan memiliki objek dan kemungkinan dipasifkan, dapat digolongakan menjadi:
a) kata kerja yang tidak dapat diikuti objek, misalnya: menggeliat, berangkat, pergi;
b) kata kerja yang dapat diikuti objek, tetapi tidak dapat dipasifkan, misalnya: membangunkan, menjemput;
c) kata kerja yang dapat diikuti dua objek, misalnya: memberi, membuatkan, membelikan;
d) kata kerja yang dapat diikuti objek, tetapi tidak dapat dipasifkan; misalnya: berdagang, berjuang.
4) Versi Samsuri
Samsuri dalam Morfologi dan Pembentukan Kata (1988), membahas bahwa kata kerja (verba) dibagi menjadi dua, yaitu:
1) Verba dasar
(1) "sederhana", misalnya ada, kembali, tidur;
(2) "rumit":
(a) {ber-}, misalnya bertemu, berjongkok, berjubel;
(b) {meN-}, misalnya membaca, membeli, meremas;
(c) {meN+i}, misalnya menghalangi, mencicipi,
merintangi;
(d) {meN+kan}, misalnya menghidangkan,
menggolongkan, menjungkalkan;
(e) {ter-}, misalnya terdesak, tercecer, terengah-engah.
2) Verba turunan
(1) {meN+}, misalnya menggambar, meludah, menyatu;
(2) {meN+i}, misalnya menyakiti, menyurati, mendalami;
(3) {meN+kan}, misalnya membosankan, menduakan,
merendahkan;
(4) {ber+an}, misalnya berdesakan, berebahan, berlimpahan;
(5) {di+Ө}, misalnya dicangkul, diturut, dikenal;
(6) {di+i}, misalnya digambari, didekati, dikibuli;
(7) {di+kan}, misalnya didaratkan, dikenalkan, dijelaskan;
(8) {ter+}, misalnya terbaca, terbina, terlarang;
(9) {ter+i}, misalnya terairi, terludahi, tersakiti;
(10) {ter+kan}, misalnya tertaklukan, terobohkan, tergulingkan;
(11) {ke+an}, misalnya kecurian, kehujanan, kehausan;
(12) "reduplikasi", misalnya makan-makan, berbincang-
bincang, membuka-buka, tersendat-sendat, meroboh-robohkan,
berkenal-kenalan, dipijit-pijit, tertawa-tawa;
(13) "paduan", misalnya melepas lelah, timbul tenggelam,
berinduk semang, merataptangisi.
5) Versi Kridalaksana
Kridalaksana dalam bukunya, Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia (1986), menjelaskan bahwa dilihat dari bentuknya, verba dibedakan atas: (a) verba dasar, (b) verba turunan yang terdiri atas verba berafikas, verba bereduplikasi, dan verba berproses gabung. Disamping itu, verba juga dibedakan lagi berdasarkan banyaknya argument, hubungannya dengan nomina, interaksi dengan nomina pendamping, sudut referensi argument, ketuntasan perbuatan, hubungan identifikasi antarargumen, perpindahan kategori, dan tuturan yang disampaikan.
6) Tatabahasa Baku Bahasa Indonesia
"Rombongan" Linguis bahasa Indonesia-Bambang Kaswanti Purwo, Harimurti Kridalaksana, W.H.C.M. Lalamentik, Drs. M. Ramlan, Samsuri, Sudaryanto, Mangasa Silitonga, D.P. Tampubulon, dan Henry G. Tarigan, dengan editor Anton M. Moeliuono dan Soenjono Dardjowidjojo-penyusun Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988), menjelaskan secara sederhana bahwa verba bercirikan:
(a) berfungsi sebagai (inti) predikat,
(b) bermakna dasar, perbuatan, proses, dan keadaan yang bukan sifat/kualitas,
(c) verba yang bermakna keadaan tidak bias diprefiksi {ter-} 'paling'.
7) Kamus Linguistik
Dalam buku Kamus Linguistik-Harimurti Kridalaksana (2001:226), verba adalah kelas kata yang biasanya berfungsi sebagai predikat; dalam beberapa bahasa lain verba mempunyai ciri morfologis seperti ciri kala, aspek, persona, atau jumlah. Sebagian besar verba mewakili unsur semantis perbuatan, keadaan, atau proses; kelas ini dalam bahasa Indonesia ditandai dengan kemungkinan untuk diawali dengan kata tidak dan tidak mungkin diawali dengan kata seperti sangat, lebih, dsb; mis. datang, naik, bekerja, dsb.
8) Kamus Besar Bahasa Indonesia
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia-edisi keempat (2008:1546), verba adalah kata yang menggambarkan proses, perbuatan, atau keadaan; kata kerja.
9) Verba dalam Bahasa Inggris
Sidney Greenbaum dan Randolph Quirk dalam bukunya, A Student's Grammar of The English Language (1990:24), menjelaskan bahwa di dalam bahasa Inggris, istilah verba digunakan dalam dua pengertian, yaitu:
1. Verba adalah salah satu dari unsur dalam struktur anak kalimat, seperti subjek dan objek.
Misalnya:
They linked hands. He is making a noise.
I can believe you. She might be leaving soon.
2. Verba adalah anggota dari kelas kata, seperti nomina dan ajektiva.
Sebagai sebuah kelas kata, verba dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu:
1. Full Verbs (kata kerja penuh)
Misalnya: believe, follow, like, see, …
2. Primary Verbs (kata kerja pokok)
Misalnya: be, have, do
3. Modal Auxiliaries (kata kerja bantu)
Misalnya: can, may, shall, will, must, could, might, should,
would
Jika hanya terdapat satu verba dalam sebuah ungkapan kata kerja, itu adalah main verb (kata kerja paling penting). Tetapi apabila terdapat lebih dari satu verba, yang terakhir adalah main verb, dan yang lainnya adalah kata kerja bantu.Sebagai contoh, leaving adalah main verb dalam kalimat ini, dan might serta be adalah kata kerja bantu:
She might be leaving soon.

Sintesis
Dari berbagai versi dan pendapat tentang verba tersebut, kelompok kami lebih bersepakat dengan pengertian verba menurut Kamus Linguistik bahwa verba adalah kelas kata yang biasanya berfungsi sebagai predikat; dalam beberapa bahasa lain verba mempunyai ciri morfologis seperti ciri kala, aspek, persona, atau jumlah. Sebagian besar verba mewakili unsur semantis perbuatan, keadaan, atau proses; kelas ini dalam bahasa Indonesia ditandai dengan kemungkinan untuk diawali dengan kata tidak dan tidak mungkin diawali dengan kata seperti sangat, lebih, dsb; mis. datang, naik, bekerja, dsb.



2. Pengelompokan verba

1) Menurut perilaku semantis
Pengelompokan verba menurut perilaku semantis adalah menurut makna inheren yang terdapat di dalamnya.
1. Perbuatan, menjawab pertanyaan Apa yang dilakukan oleh subjek?
2. Proses, menjawab pertanyaan Apa yang terjadi pada subjek?
3. Keadaaan, menyatakan bahwa acuan verba berada dalam situasi tertentu.
4. Pengalaman, peristiwa yang terjadi pada subjek begitu saja, tanpa kesengajaan dan kehendaknya.
2) Menurut perilaku sintaksis
Pengelompokan verba menurut perilaku sintaksis ditentukan dari adanya nomina sebagai objek dari kalimat aktif serta kemungkinan objek tersebut berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif (verba transitif dan taktransitif).
1. Verba transitif: memerlukan nomina sebagai objek dalam kalimat aktif, dan objek tersebut juga berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif.
1. Verba ekatransitif: diikuti satu objek.
2. Verba dwitransitif: diikuti dua nomina, satu sebagai objek dan satunya sebagai pelengkap.
3. Verba semitransitif: objeknya boleh ada dan boleh tidak (manasuka/opsional).
2. Verba taktransitif: tidak memiliki nomina di belakangnya yang dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif.
1. Verba taktransitif tak berpelengkap
2. Verba taktransitif berpelengkap wajib
3. Verba taktransitif berpelengkap manasuka
4. Verba taktransitif berpreposisi

Kata Kerja Aus
Yang dimaksud dengan kata kerja aus (istilah St.Muh.Zain) ialah kata kerja taktransitif yang berbentuk kata dasar, yaitu kata kerja yang tak biasa memakai awalan me- atau ber-, seperti : mandi, duduk, pergi, pulang, dapat, lalu, tidur.
Untuk mengenalnya ada beberapa cirinya :
1. Kata kerja aus sifatnya taktransitif
2. Bila diberi awalan me- atau ber- maka:
a. Janggal kedengaranya (karena tak biasa ) atau
b. Artinya berubah
Tidak biasa orang mengatakan: memandi, bermain, menduduk, berduduk, memergi, be(r)pergi.
pulang = kembali
berpulang = meninggal, mati (singkatan dari
berpulang ke rahmatullah)
lalu = lewat, lampau
melalu = tidak sempat makan sahur dalam
bulan puasa karena ketiduran,
misalnya
dapat = sanggup, bisa
mendapat = menerima, memperoleh
Ada kata kerja aus jenis kedua yang tak tergolong pada kata kerja aus seperti di atas. Kata-kata jenis ini tak banyak: minta, mohon, makan, minum. Kata-kata ini dipakai sebagai kata kerja taktransitif apabila objeknya sudah diketahui; misalnya, Dia sedang makan. (maksudnya makan nasi; pada orang Belanda mungkin makan roti). Saya minta minum. (maksudnya minum air). Kadang-kadang diberi awalan me-, namun artinya tak berubah, juga tak terdengar janggal: meminum minuman keras, memakan harta anak yatim, memohon belas kasihan, meminta pertolongan.
Dalam bahasa Indonesia dewasa ini, sering kita jumpai pemakaian kata kerja aus jenis pertama tadi yang diberi awalan ber- atau me-, seperti dibawah ini.
Saya ada di kantor.
Saya berada di kantor.
Peristiwa itu telah lalu.
Peristiwa itu telah berlalu.
Pada pekan olah raga yang akan datang.
Pada pekan olah raga mendatang.
Kata nikah yang berasal dari bahasa Arab tergolong kata kerja aus, tetapi dewasa ini lebih sering dipergunakan orang dengan awalan me-, menikah. Pemberian awalan me- atau ber- seperti contoh-contoh ini menonjolkan keaktifan subjek.
3) Menurut bentuk
Pengelompokan verba menurut bentuk membagi verba menjadi verba asal dan verba turunan.
1. Verba asal
Misalnya: ada, mandi, tiba
2. Verba turunan
1. Verba turunan dasar bebas afiks wajib
Misalnya: melebar, bersepeda, mendarat
2. Verba turunan dasar bebas afiks manasuka
Misalnya: (mem)baca, (ber)jalan
3. Verba turunan dasar terikat afiks wajib
Misalnya: bertemu, menemukan
4. Verba turunan berulang
Misalnya: makan-makan, memukul-mukul
5. Verba turunan majemuk
Misalnya: naik haji, mempertanggungjawabkan

3. Penurunan verba
Proses penurunan verba bisa melalui empat cara:
1. Transposisi: penurunan verba dari kelas kata lain.
2. Pengafiksan: penurunan verba dengan penambahan afiks pada dasar.
Penggabungan prefiks dan sufiks
Prefiks/sufiks -kan -i -an
Meng- V V
Per- V V
Ber- V V
Ter- V V
di- V V
Ke- V V
3. Reduplikasi: penurunan verba dengan pengulangan kata.
4. Pemajemukan: penurunan verba dengan penggabungan atau pemadusan dua dasar atau lebih.

4. Problematika Verba
1. Dasar ajektiva berprefiks se- sesungguhnya berkategori verba
Dasar ajektiva dengan prefiks se- bukanlah berkategori ajektiva sebab tidak dapat diawali adverbial agak atau sangat. Bentuk agak sepintar dan sangat sepintar sangat tidak berterima. Kata-kata yang dibentuk dari dasar ajektiva dengan prefiks se- sesungguhnya berkategori verba. Prefiks se- pada dasar ajektiva bertugas membentuk tingkat perbandingan 'sama' atau sederajat dalam suatu sistem penderajatan.

Perhatikan:
- setinggi → sama tinggi → tingkat sama
- sepintar → sama pintar → tingkat sama
- semahal → sama mahal → timgkat sama
2. Dasar ajektiva bersufiks –an sesungguhnya berkategori verba
Dasar ajektiva dengan sufiks –an bukanlah berkategori ajektiva, melainkan verba, sebab tidak dapat diawali adverbial agak atau sangat. Bentuk agak tinggian dan sangat tinggian tidak berterima. Kata-kata yang dibentuk dari dasar ajektiva dengan sufiks –an membentuk tingkat perbandingan lebih dalam satu sistem penderajatan.
Perhatikan:
- tinggian → lebih tinggi → tingkat lebih
- pintaran → lebih pintar → tingkat lebih
- mahalan → lebih mahal → tingkat lebih
3. Dasar ajektiva berprefiks ter- sesungguhnya berkategori verba
Kata-kata yang bentuk dasarnya ajektiva dengan prefiks ter- tidaklah termasuk berkategori ajektiva, melainkan berkategori verba, sebab tidak dapat didahului adverbial agak dan sangat. Bentuk-bentuk seperti agak termahal dan sangat termahal tidak berterima. Prefiks ter- pada dasar ajektiva bertugas membentuk tingkat perbandingan superlatife dalam suatu sistem penderajatan.
Perhatikan:
- tertinggi → paling tinggi → tingkat paling
- terpintar → paling pintar → tingkat paling
- termahal → paling mahal → tingkat paling
4. Dasar ajektiva berklofiks me-kan merupakan kategori ganda
Dasar ajektiva berklofiks me-kan sesungguhnya merupakan kategori ganda, yaitu ajektiva dan verba. Sebagai kategori ajektiva dapat didahului oleh adverbia agak dan sangat; dan sebagai verba dapat diikuti oleh sebuah objek.
Misalnya:
Agak memalukan orang banyak.
Ket: - agak memalukan menunjukkan memalukan sebagai kategori ajektiva
- memalukan orang banyak menunjukkan memalukan berkategori verba
5. Dasar Ajektiva Berklofiks me-i merupakan kategori ganda
Dasar ajektiva dengan klofiks me-i sesungguhnya merupakan kategori ganda, yaitu ajektiva dan verba. Sebagai kategori ajektiva dapat didahului adverbial agak dan sangat; dan sebagai verba dapat diikuti oleh sebuah objek.
Misalnya:
Sangat menghormati guru itu.
Ket: - sangat menghormati menunjukkan menghormati sebagai ajektiva
- menghormati guru itu menunjukkan menghormati berkategori verba
6. Akar yang dapat membentuk verba
Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah akar yang dapat membentuk verba berprefiks me- dan verba berprefiks ber-, seperti:
- satu → menyatu → bersatu
- temu → menemukan → bertemu
- kembang → mengembang → berkembang
- baur → membaur → berbaur
- tinju → meninju → bertinju





BAB II
SIMPULAN

Verba adalah kelas kata yang biasanya berfungsi sebagai predikat; dalam beberapa bahasa lain verba mempunyai ciri morfologis seperti ciri kala, aspek, persona, atau jumlah. Sebagian besar verba mewakili unsur semantis perbuatan, keadaan, atau proses; kelas ini dalam bahasa Indonesia ditandai dengan kemungkinan untuk diawali dengan kata tidak dan tidak mungkin diawali dengan kata seperti sangat, lebih, dsb; mis. datang, naik, bekerja, dsb.
Pengelompokan verba dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu menurut perilaku semantisnya, menurut perilaku sintaksisnya, dan menurut bentuknya.
Proses penurunan verba bisa melalui empat cara, yaitu transposisi, pengafiksan, reduplikasi, pemajemukan.
Verba memiliki beberapa problematika, diantaranya ialah adanya kata-kata berkategori verba yang berasal dari akar dan kata dasar ajektiva.














DAFTAR PUSTAKA

Muslich, Masnur. 2008. Tatabentuk Bahasa Indonesia, Kajian ke Arah Tatabahasa Deskriptif. Jakarta: Bumi Aksara.
Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Pusat Bahasa. 2008. Kamus Besar Bahasa Inndonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka Cipta.
Badudu, J.S. 1985. Pelik-pelik Bahasa Indonesia. Bandung: Pustaka Prima.
Greenbaum, Sidney dan Randolph Quirk. 1990. A Student's Grammar of The English Language. Inggris: Longman.
id.wikibooks.org/wiki/Bahasa_Indonesia/Verba

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar