Rabu, 12 Januari 2011

Analisis Drama Nyonya-Nyonya karya Wisran Hadi

1.1 Profil Wisran Hadi
Nama : Wisran Hadi
Tempat, tanggal lahir : Lapai, Padang, Sumatera Barat, 27 Juli 1945
Pendidikan : - ASRI Yogyakarta (1969),
- International Writing Program di Iowa
University, USA (1997),
- mengikuti Observasi Teater Modern Amerika
di USA (1978),
- mengikuti Observasi Teater Modern Amerika
dan Jepang (1986)
Prestasi :
o Pemenang Harapan Ketiga Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Gaung (1975),
o Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Ring (1976),
o Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Anggun Nan Tongga (1976),
o Pemenang Lomba Penulisan Nasah Sandiwara DKJ untuk karyanya Cindua Mato (1997),
o Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Malin Kundang (1978).
o Pemenang LombaPenulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Perguruan (1979),
o Pemenang lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Imam Bonjol (1980),
o Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Pewaris (1981),
o Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Penyeberangan (1984),
o Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Senandung Semenanjung (1985),
o Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Gading Cempaka (1998),
o Penghargaan Sastra dari Pusat Bahasa atas karyanya Jalan Lurus (1991),
o Penghargaan sastra SEA Write Award dalam karyanya Empat Sandiwara Orang Melayu (2000).

1.2 Riwayat Hidup Wisran Hadi
Dilahirkan di Lapai, Padang, Sumatera Barat, pada 27 Juli 1945. Nama Hadi merupakan singkatan nama orang tuanya, Haji Darwas Idris. Wisran merupakan anak ketiga dari tiga belas bersaudara. Ia dibesarkan dalam lingkungan pendidikan agama Islam yang taat. Ayahnya, H. Darwas Idris, adalah seorang Imam Besar Masjid Muhammadiyah Padang dan juga seorang ahli tafsir terkemuka di Indonesia.
Masa kecilnya banyak dipengaruhi oleh kesenian Minangkabau tradisional, seperti pertunjukan randai dan cerita rakyat Minangkabau. Dia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di kota Padang . Setelah menyelesaikan sekolah guru agama di Padang, Wisran melanjutkan pendidikannya ke Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta dan tamat tahun 1969.
Dia tidak hanya menggeluti dunia lukis dan sastra, tetapi juga memasuki dunia akting dan aktif di berbagai kegiatan kesenian, baik tingkat daerah maupun nasional. Hobinya sebagai penulis membuahkan hasil sebagai penulis drama terkemuka di Indonesia yang memiliki ciri khas kedaerahan. Naskah-naskah drama yang dihasilkan mampu mengantarkannya sebagai pemenang lomba penulisan. Dia memperoleh penghargaan penulisan naskah sandiwara yang diselenggarakan oleh DKJ pada tahun 1975, 1981, 1984, 1985, dan 1998. Tahun 1991, dia menerima penghargaan sebagai seniman teladan dari Pemda Tk II Padang. Wisran juga pernah memperoleh Penghargaan Sastra dari Pusat Bahasa tahun 1978 atas karyanya yang berjudul Jalan Lurus. Selain menulis naskah drama, dia juga menulis, puisi, cerpen, dan novel. Untuk menyalurkan kreativitas generasi Padang dalam dunia teater, Wisran mendirikan sanggar Teater Bumi pada tahun 1978 di Padang.
Saat ini, Wisran lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menulis setelah pensiun dari dosen tamu Fakultas Sastra Universitas Andalas dan INS Kayu Tanam. Istrinya, Upita Agustina, juga seorang penyair. Mereka dikaruniai lima orang anak. Yang menarik dari karya-karya Wisran adalah adanya upaya untuk menghidupkan kembali tradisi dan mitos lama Minangkabau dan Melayu ke dalam bentuk kekinian. Akan tetapi, tidak tunduk kepada pemikiran masyarakatnya. Wisran, dalam karya-karyanya, berupaya mentransformasikan mitos dan nilai-nilai lama Minangkabau yang ada dalam tradisi dan cerita lama Minangkabau dalam bentuk yang baru.
Namanya terpilih sebagai salah satu seniman yang memenangkan penghargaan dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Penulis prosa berdarah Minang ini adalah salah satu seniman yang konsisten berkarya hingga hari tuanya. Ketika menerima penghargaan tersebut pada Kongres Kebudayaan V beberapa waktu lalu. Penghargaan lain yang pernah diterimanya datang dari Kerajaan Thailand berupa SEA Write Award tahun 2000. Ia menjadi penulis Minang kedua yang mendapatkan hadiah bergengsi itu setelah A.A. Navis pada tahun 1992.
Wisran pernah menulis kumpulan naskah drama berjudul Empat Orang Melayu berisi empat naskah drama Senandung Semenanjung, Dara Jingga, Gading Cempaka”dan Cindua Mato”yang membuatnya mendapat penghargaan SEA Write Award 2000. Novelnya yang pernah dibukukan antara lain berjudul Tamu, Iman, Empat Sandiwara Orang Melayu dan Simpang. Cerpen-cerpennya kerap dipublikasikan di media cetak dan dibukukan penerbit Malaysia berjudul Daun-Daun Mahoni Gugur Lagi.
Dia juga pernah mendapat Hadiah Sastra 1991 dari Pusat Pengembangan Bahasa Depdikbud karena karya buku dramanya Jalan Lurus mendapat Hadiah Sastra 1991 dari Pusat Pengembangan Bahasa Depdikbud dan dijadikan buku drama terbaik pada Pertemuan Sastrawan Nusantara 1997. Karyanya dikenal sangat kritis termasuk dalam menulis tentang permasalahan budaya dalam masyarakatnya. Misalnya pada karya dramanya yang berjudul Cindua Mato yang menggambarkan tentang figur Bundo Kanduang sebagai figur agung masyarakat Minangkabau. Juga karya dramanya yang lain Tuanku Imam Bonjol dengan sisi kepahlawanan dan kelemahannya.
Sebanyak 15 karya drama dipilih sebagai pemenang dalam Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta semenjak 1976 s/d. 1985 dan 1998, 2004. 13 karya dramanya yang lain diterbitkan oleh Proyek Pengadaan Buku-buku Sastra Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI Jakarta. 7 karya dramanya telah difilmkan oleh TVRI Palembang, TVRI Padang dan TVRI Jakarta; Empat lakon Perang Paderi, Kau Tunggu Siapa Nilo, Cindra Mata dan Anggun Nan Tongga.

Alamat
Jalan Gelugur Blok H no. 2
Wisma Indah II – Padang 25142
Telp. 0751 7052174
E-Mail : wisranhadi@yahoo.com

1.3 Karya-karya Wisran hadi
o Dua Buah Segi Tiga (1972),
o Sumur Tua (1972),
o Gaung (1975),
o Putri Cendana (drama anak-anak, 1975),
o Angsa-Angsa Bermahkota (drama anak-anak, 1975),
o Kejaran Bungsa (drama anak-anak, 1975),
o Putri Mawar (drama anak-anak, 1975),
o Saijah dan Adinda (drama remaja, 1975),
o Ehm (1975),
o Memuara ke Telaga (1976),
o Ring (1976),
o Tetangga (1977),
o Sandi Ba Sandi (1977),
o Payung Kuning (1977),
o Simpang (1977),
o Astaga (1977),
o Anggun Nan Tongga (1977),
o Cindua Mato (1977),
o Malin Kundang (1978),
o Malin Deman (1978),
o Perguruan (1978),
o Puti Bungsu (1979),
o Tuanku Yayai (1979),
o Imam Bonjol (1980),
o Terminal (operet, 1980),
o Kemerdekaan (1980),
o Baeram kumpulan sandiwara (Baeram, Nilam Sari, Nilonali, Sutan Pamenan, Sabai, dan Istri Kita,1981),
o Pewaris (1981),
o Nurani (1981),
o Titian (1982),
o Perantau Pulau Puti (1982),
o Nyonya-Nyonya (1982),
o Tuanku Nan Renceh (1982),
o Sabai Nan Aluih (naskah randai, 1982),
o Paimbang Dunia (naskah randai, 1982) ,
o Makan Bajamba (naskah randai, 1983),
o Manjau Ari, (naskah randai, 1984),
o Dara Jingga (1984),
o Penyeberangan (1984),
o Senandung Semenanjung (1985),
o Jalan Lurus (1985),
o Drama Perjuangan (1985),
o Teater Elektronik (1985),
o Kebun Tuan (1985),
o Ibu Suri (1988),
o Matri Lini (1988),
o Salonsong (1988),
o Ceramah Alamiah (1989),
o Mandi Angin (1999),
o Empat Sandiwara Orang Melayu (2000),
o Wayang Padang (2006).

1.4 Sinopsis Drama Nyonya-Nyonya
Seorang Tuan pedagang barang antik sedang berdiri di teras depan rumah seorang Nyonya sambil menggerutu sendiri tentang cuaca, keadaan dirinya, dan tentang perilaku orang-orang terhadap dirinya.
Nyonya tersebut mengomel karena Tuan berdiri di terasnya. Ia khawatir keberadaan Tuan di teras rumahnya akan menimbulkan pandangan negatif dari masyarakat. Ia juga mengusir Tuan agar lekas pergi dari teras rumahnya.
Tuan mengelak kekhawatiran Nyonya dengan mengemukakan banyak alasan. Akhirnya Tuan membeli empat buah marmer tempat dia berdiri agar ia bisa bebas berdiri di sana tanpa didesak-desak untuk pergi oleh Nyonya.
Kemudian Ponakan A—keponakan suami Nyonya—datang menagih uang hasil penjualan tanah pusaka. Tanah pusaka milik keluarga mereka telah diserahkan kepada Datuk, suami Nyonya, untuk dijual, namun uang hasil penjualannya tidak dibagi-bagikan kepada keponkan-keponakannya. Karena itu Ponakan A menuntut bagi hasil.
Ia juga mencurigai Nyonya menggunakan harta pusaka itu untuk membangun rumahnya yang mewah. Namun Nyonya mengelak semua tuduhan itu. Ponakan A juga menuduh bahwa penyakit kanker lidah yang kini diderita Datuknya adalah karena kutukan nenek moyang, karena Datuknya telah berani memakan uang penjualan tanah pusaka. Menurutnya, orang yang memakan harta tanah pusaka dan berlaku tidak adil dalam pembagian warisan pasti akan mendapat penyakit yang aneh-aneh.
Ponakan A tetap bersikukuh bahwa Nyonya menyimpan uang penjualan tanah pusaka itu di rumahnya. Hal itu membuat Nyonya marah. Ponakan A kemudian mengeluarkan pisau dari dalam tasnya dan mengancam Nyonya agar memberikan uang. Nyonya kemudian memberikan uang hasil penjualan empat buah mermernya kepada Ponakan A. Terjadilah rebutan pisau, namun akhirnya Ponakan A dapat merebut pisau itu kembali dari tangan Nyonya dan membawa uangnya pergi.
Nyonya yang tidak berhasil mengejar Ponakan A kembali ke ruang tamu dan terkejut mendapati Tuan sudah duduk enak-enakan duduk di kursi ruang tamunya. Ia marah karena Tuan masuk dan duduk di ruang tamunya tanpa izin. Tuan membela diri dengan berbagai macam alasan. Akhirnya Tuan membeli kursi ruang tamu Nyonya agar Nyonya tidak mendesak-desaknya keluar dari ruang tamu.
Istri Tuan kemudian datang sembari marah-marah. Ia memarahi Tuan yang tak kunjung pulang, apalagi ketika ia mengetahui suaminya itu membeli sebuah kursi bekas dengan harga yang menurutnya sangat mahal. Ia menyesalkan sikap Tuan yang menjual kursi di rumahnya—sedangkan anak-anak mereka di rumah sangat menginginkan untuk memiliki kursi—tapi malah membeli sebuah kursi bekas. Dua pasangan suami istri itu terus bertengkar dan pergi.
Ponakan B dan Ponakan C datang menemui Nyonya. Sama seperti Ponakan A, mereka juga menuntut pembagian uang penjualan tanah pusaka. Mereka juga menuduh Nyonya seperti tuduhan Ponakan A. Mereka mengancam Nyonya dengan surat pengakuan dari Datuk, yang berisi pernyataan bahwa uang pusaka telah diserahkan kepada Nyonya. Tapi Nyonya mengelak, ia bersikukuh bahwa rumahnya adalah hasil kerja kerasnya dan ibunya sendiri.
Nyonya akhirnya memberikan sejumlah uang hasil penjualan kursinya kepada Ponakan B dan Ponakan C. Uang itu segera dibagi jadi dua, tapi bagian Ponakan C lebih besar. Ponakan B tidak terima, ia menuntut pembagian yang rata.
Kemudian Ponakan A datang dengan pisau terhunus. Ponakan A juga menuntut pembagian uang itu. Ia mengancam dengan pisau di tangannya. Ponakan C tidak terima, ia juga mengeluarkan pisau yang lebih besar. Demikian juga dengan Ponakan B, ia juga mengeluarkan piasu yang lebih besar lagi dari pisau Ponakan C.
Nyonya berteriak-teriak, mencegah agar mereka tidak berbunuhan. Ia ketakutan dan keluar. Sepeninggalnya Nyonya, ketiga Ponakan lega dan saling bersalaman. Mereka juga tertawa cekikikan. Ponakan A berkata bahwa dengan uang itu, mereka dapat membayar ongkos rumah sakit Datuknya sehingga mereka tidak lagi dituduh sebagai orang yang tak tahu adat. Mereka kemudian berteriak tentang kesetiaan mereka kepada Datuknya.
Tuan datang dan segera duduk di kursi makan. Nyonya yang datang tak berapa lama kemudian merasa terkejut. Mereka kembali beradu argumen. Akhirnya Tuan membeli kursi makan tersebut. Ia membayar kursi itu separuh harga dan berjanji akan melunasi sisanya besok pagi. Nyonya kemudian menyuruh Tuan keluar tapi Tuan marah karena sebagai pemilik kursi ia tidak mau diusir.
Akhirnya Tuan kemudian keluar juga, tapi ternyata ia lupa membawa tasnya. Ketika berbalik ingin mengambil tas, ia mendengar Nyonya mengucapkan kalimat penyesalan karena Tuan datang terlalu pagi sehingga ia tidak sempat gosok gigi. Tuan pun menggoda Nyonya, Nyonya kelabakan dan berlari ke dalam. Tuan akhirnya keluar sambil bernyanyi-nyanyi senang.
Dari arah lain, ketiga ponakan masuk sambil meratap, menyesali nasib Datuknya yang dapat istri cantik tetapi menyia-nyiakan suami. Tapi karena Nyonya tidak ada di rumah ketiganya kemudian pergi dengan kecewa.
Nyonya sedang berdandan di kamar. Ia duduk di kursi riasnya didiringi sebuah nyanyian dari tape recorder. Tiba-tiba Tuan masuk. Nyonya terkejut sekali dan segera mematikan tape recordernya.
Nyonya memarahi Tuan yang seenaknya memasuki kamarnya. Tuan beralasan bahwa ia ingin melunasi hutangnya. Ia mengeluarkan sejumlah uang tapi Nyonya tak peduli. Tuan kemudian menghitung uang itu sambil duduk di atas tempat tidur. Matanya terpaku pada tubuh Nyonya yang sedang berdandan.
Nyonya menyuruh Tuan keluar tapi Tuan mengelak dengan berbagai alasan. Tuan malah menyuruh Nyonya duduk di sampingnya. Nyonya menolak untuk duduk di samping Tuan. Ia menjual tempat tidur dan kursi riasnya agar Tuan segera angkat kaki dari kamarnya. Tuan mulai menawar harga tempat tidur dan kursi rias. Setelah menyerahkan uang, Tuan tak langsung pergi. Ia mengatakan bahwa kursi rias itu telah menjadi miliknya, maka Nyonya tidak berhak menempati milik orang. Nyonya akhirnya berdiri.
Di luar kamar, ketiga ponakan datang sambil meratap tentang kemalangan Datuknya. Kemudian istri Tuan juga datang dan ketiga ponakan itu pun berhenti meratap.
Di dalam kamar, Tuan segera bangkit dan langsung berjongkok di dekat kaki Nyonya. Tuan mengkhawatirkan lutut Nyonya yang bisa bengkak karena kelamaan berdiri. Namun Nyonya tak peduli, ia tetap berdiri. Tuan mengatakan bahwa lutut Nyonya telah bengkak. Nyonya melihat lututnya tapi tetap masa bodoh.
Nyonya-nyonya di luar itu pun juga melihat lututnya sendiri-sendiri.
Tuan mengatakan bahwa betis Nyonya mulai berdarah dan memegang kaki Nyonya. Nyonya menyuruh Tuan untuk melepaskan tanganya. Namun Tuan tidak mau. Nyonya kemudian menjual tumitnya agar Tuan tidak lagi memegang kakinya. Tuan mulai menawar, tapi Nyonya meminta harganya naik. Dan setiap Nyonya meminta kenaikan harga, pegangan Tuan naik ke atas.
Nyonya kemudian berteriak tertahan, dan nyonya-nyonya yang berada di luar kamar ikut berteriak. Nyonya dan Tuan segera sadar bahwa ada orang lain di teras. Keduanya tersentak dan saling berusaha melarikan diri, tapi tidak tahu mau lari ke mana. Akhirnya, mereka berangkulan dan saling melepaskan lagi, kemudian berangkulan lagi.
Nyonya-nyonya di luar mengintip dan tercengang. Mereka marah dan mengejar Tuan dan Nyonya ke dalam sambil menghunus pisau masing-masing. Istri Tuan kemudian datang tergesa dan ketika melihat Tuan dan Nyonya berpelukan, ia kemudian pingsan.

1.5 Apresiasi Drama Nyonya-Nyonya

 Tema
Dalam drama ini tema yang diangkat oleh pengarang adalah menjaga nama baik. Nyonya pada drama ini selalu menghindar terhadap tindakan yang dapat mencemarkan nama baiknya. Dia tidak ingin nama baiknya tercemar karena ada seoranng pria yang masuk ke dalam rumahnya, sedangkan rumahnya kosong tidak ada orang tua ataupun suaminya.
NYONYA
Tuan mengira teras rumahku ini halte bus!? Tak useh ye! Ayo pergi! jangan berdiri di situ! Pergi! namaku tidak boleh cacat di mata umum. Berapa kali harus kukatakan pada Tuan! Namaku, namaku! Apa semua pedagang barang antic selalu tuli!?

 Latar
Latar dalam drama ini sangat terlihat sekali. Setiap babak berbeda latar tempatnya dan setiap nama babak mencirikan latar tempat drama ini.
Babak kesatu "Di Teras"
NYONYA (Mematikan Tape Recorder dan datang dengan berang menemui Tuan)
Bagus sekali, Tuan! Bagus. Tenu Tuan sudah menyusun alas an pula untuk dapat berdiri di teras rumahku ini. Hari telah malam, taksi tidak ada yang lewat, ramalan TV meleset dan sebagainya, dan sebagainya! Apa kata orang-orang itu nanti, kalau mereka melihat Tuan terus berdiri di sini. Kalau disangka Tuan sedang bermain drama ya…. Mungkin tidak apa-apa. Tapi, kalau mereka menyangka Tuan sedang mengintai saya yang sedang berdandan di kamar kan susah. Ekor persoalannya, Tuan. Ekornya.
Babak kedua "Di Ruang Tamu"
TUAN DATANG DAN LANGSUNG DUDUK DI KURSI. DIA DUDUK DENGAN SANGAT ENAK. SEMENTARA ITU, NYONYA DATANG TERENGAH-ENGAH. DIA KESAL SEKALI KARENA TIDAK BERHASIL MENGEJAR PONAKAN A. DIA TERKEJUT MELIHAT TUAN SUDAH DUDUK DI RUANG TAMU. LALU, SEMUA KEKESALANNYA ITU DILAMPIASKANNYA PADA TUAN.
Babak ketiga "Di Ruang Makan"
TUAN DATANG DAN SEGERA DUDUK DENGAN ENAKNYA DI ATAS KURSI MAKAN, DIIRINGI LAGU YANG LUCU DARI TAPE RECORDER. NYONYA DATANG DAN TERKEJUT MELIHAT TUAN TELAH DUDUK DI RUANG MAKAN.
Babak keempat, “Di Dalam Kamar”
NYONYA BERDANDAN DI DALAM KAMAR, DIIRINGI SEBUAH NYANYIAN DARI TAPE RECORDER. TIBA-TIBA TUAN MASUK. NYONYA TERKEJUT SEKALI DAN SEGERA MEMATIKAN TAPE RECORDERNYA.
Latar sosial dan budaya dalam drama ini adalah budaya Minang yang cukup kental, terlihat dari dialog antartokoh.
NYONYA
Kenapa datang tergesa? Kamu dari rumah sakit? Apa Datuk (kakek) mu memerlukan sesuatu? Apa dokter mengatakan Datukmu akan dioperasi? Katakan cepat. Saya cemas sekali dengan kedatanganmu yang tiba-tiba begini.
dan
BERTIGA (Berteriak lebih keras setelah menyimpan pisau kedalam tas)
Kamilah pewaris adat negeri ini! Tak lekang dek panas! Tak lapuk dek hujan! (Lalu keluar sambil bergoyang pinggul) Ekornya…. Ekornya…. Ekornya…..

 Alur
Drama Nyonya-Nyonya karya Wisran Hadi ini hanya memiliki satu alur saja, yaitu alur maju. Drama ini terdiri dri dari empat babak. Dari setiap babak ke babak berikutnya merupakan kelanjutan cerita dari babak sebelumnya. Kejadian yang terjadi pada babak kedua juga sebagai sebab-akibat dari kejadian di babak pertama, begitu seterusnya.
Babak kesatu, “Di Teras”, menceritakan Nyonya yag terganggu karena Tuan tidak juga pergi dari depan tersanya. Nyonya merasa nama baiknya akan tercemar dengan mengatakan “ Nama baikku Tuan. Nama baikku nanti rusak,” karena Tuan tak juga pergi dari depan rumahnya. Hingga akhirnya tuan membeli marmer tempatnya berdiri agar tidak lagi diusir oleh Nyonya. Marmer milik Nyonya terpaksa haus dijual karena adanya tawar-menawar harga mermer dan nyonya tidak bisa menggagalkan transaksi jika tak mau diadukan ke pengadilan yang dapat membuat nama baikya tercemar.
Di babak kesatu ini juga terdapat adegan dialog antara Nyonya dengan Ponakan A. pembicaraan mereka membahas warisan tanah pusaka yang dijual kakek Ponakan A yang juga suami dari Nyonya. Ponakan A menganggap bahwa uang hasil penjualan tanah pusaka yang dijanjikan kakeknya akan dibagikan ke cucu-cucunya ada pada Nyonya. Nyonya tidak mengakuinya hingga akhirnya Ponakan A menodongkan pisau ke arah Nyonya. Nyonya pun terpaska mengakui dan memberikan uang kepada Ponakan A karena takutnya nama baiknya tercemar.
Di babak kedua, “Di Ruang Tamu”, terjadi lagi kejadian seperti pada babak satu yaitu adanya transaksi jual beli kursi tamu, juga dengan alasan agar Tuan segera pergi dari rumahnya karena masalah nama baik. Disini uang hasil penjualan kursi tamu diberikan pada Ponakan B dan Ponakan C karena Nyonya tidak ingin nama baiknya tercemar.
Di babak ketiga, "Di Ruang Makan", terjadi pula adanya transaksi jual beli kursi makan, dengan alasan yang tetap sama, yaitu agar tuan segera pergi dari Ruang makan. Begitu selanjutnya hingga ke babak empat. Dari tempat tidur yang dijual hingga lutut Nyonya pun ingin di jual.

 Amanat
Amanat yang ingin disampaikan pada drama ini salah satunya adalah juga menjaga nama baik karena kita merupakan makhluk sosial. Selain itu, sifat serakah itu tidak baik karena keserakahan terhadap harta akan menimbulkan perselisihan. Sesama anggota keluarga seharusnya hidup rukun.

 Tokoh dan Penokohan
Nyonya adalah seorang tokoh yang memiliki seorang ibu yang tidak dijelaskan dalam ceritanya. Nyonya juga memiliki seorang suami yang sedang dirawat di rumah sakit sehingga dirinya tinggal sendirian di rumah. Nyonya sangat menjaga nama baiknya dengan mengatakan “Ekornya, ekornya…”.
NYONYA
Kejam atau tidak, yang penting aku harus menjaga nama baikku. Coba Tuan piker. Ibuku sedang ada di rumah sakit. Bila seorang istri sendirian lalu didatangi lelaki, Tuan tentu tahu ekornya, bukan?
Tuan adalah tokoh yang hampir selalu mendampingi Nyonya dari setiap inti cerita drama ini. Mempunyai seorang istri dan anak yang suka bermain dengan kursi. Tuan mempunyai watak yang keras dan tidak mau kalah.
TUAN
Sabar sedikit Nyonya. Taksinya! Taksinya belum ada yang lewat.
dan
TUAN
Tunggu sebentar, Nyonya. Saya memang akan pergi juga.
Ponakan A adalah kemenakan suami nyonya. Ponakan A ini mempunyai sifat mau enak sendiri dan tidak ingin ada seorang pun yang menudingnya tidak berbakti pada Datuknya. Ponakan A ingin membuktikan bahwa sampai sekarang sebagai kemenakan, dirinya masih setia dan hormat pada Datuknya.
Ponakan B adalah kemenakan suami nyonya. Ponakan B ini mempunyai sifat mau enak sendiri dan tidak ingin ada seorang pun yang menudingnya tidak berbakti pada Datuknya. Ponakan B ingin membuktikan bahwa sampai sekarang sebagai kemenakan, dirinya masih setia dan hormat pada Datuknya.
Ponakan C adalah kemenakan suami nyonya. Ponakan C ini mempunyai sifat mau enak sendiri dan tidak ingin ada seorang pun yang menudingnya tidak berbakti pada Datuknya. Ponakan B ingin membuktikan bahwa sampai sekarang sebagai kemenakan, dirinya masih setia dan hormat pada Datuknya.
NYONYA
Kata suamiku, kemenakan sekarang hanya tahu enaknya saja. tidak ada lagi kemenakan yang mau merawat Datuknya, kalau tidak ada maksud-maksud tertentu. Katanya lagi, kalau tidak ada berada, masakan tempua bersarang rendah!
Istri adalah istri dari Tuan. Istri ini memiliki sifat yang hampir sama seperti Tuan yakni berwatak keras dan tidak mau kalah.
ISTRI
Kau selalu saja menunda keperluan mereka akan kursi. Aku akan panggil becak!
dan
ISTRI
Yang penting anak-anak kita, bukan harga kursi. (Pergi keluar) becak. Becak. Bawa kursi saya.

 Nilai Sosial-Budaya
Di dalam drama ini terdapat nilai-nilai sosial terkait dengan budaya dalam masyrakat. Budaya ketimuran terdapat dalam drama ini, seperti seorang istri yang tidak diperkenankan membawa masuk laki-laki lain ke dalam rumah jika tidak ada suaminya. Kepatuhan seorang istri dalam menjaga nama baiknya dan suaminya adalah budaya Indonesia atau ketimuran.
NYONYA
Tuan mengira teras rumahku ini halte bus!? Tak useh ye! Ayo pergi! jangan berdiri di situ! Pergi! namaku tidak boleh cacat di mata umum. Berapa kali harus kukatakan pada Tuan! Namaku, namaku! Apa semua pedagang barang antic selalu tuli!?
dan
NYONYA
Kejam atau tidak, yang penting aku harus menjaga nama baikku. Coba Tuan piker. Ibuku sedang ada di rumah sakit. Bila seorang istri sendirian lalu didatangi lelaki, Tuan tentu tahu ekornya, bukan?
Selain nilai ketimuran yang ada pada drama, persoalan di dalam masyarakat adalah terkait dengan sifat matrealis ibu-ibu sekarang. Setiap kali adegan dialog antara Nyonya dan Tuan, pasti ada transaksi jua;-beli barang. Nyonya pun menginginkannya, terlihat ketika di saat dia menerima uang dari Tuan.
NYONYA (Menerima uang itu dengan gugup)
Ya Tuhan (mencium uang itu beberapa kali) Jadi, Tuan tidak akan mengatakannya pada siapa pun juga, bukan?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar