Jumat, 15 Maret 2013

STUDI KASUS PEMEROLEHAN BAHASA PADA ANAK USIA 3 TAHUN


STUDI KASUS PEMEROLEHAN BAHASA
PADA ANAK USIA 3 TAHUN

Arni Yanti (0908790)
Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia

Abstrak: Pemerolehan bahasa anak usia 3 tahun akan diteliti pada seorang anak perempuan bernama Nadya pada setting di rumah. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode simak dan cakap. Data yang dihimpun berupa tuturan lisan objek penelitian dengan lawan tuturnya dalam suatu percakapan di telepon. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam mencermati pemerolehan bahasa anak usia 3 tahun. Pemerolehan bahasa yang dimaksud mencakup tataran sintaksis, tataran semantik, dan tataran fonologi.

Kata kunci: bahasa, pemerolehan, sintaksis, semantik, fonologi

A.   Pendahuluan
Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Bahasa merupakan wujud dari kehidupan manusia tersebut. Bahasa diperoleh seorang manusia mulai sejak lahir, ketika dia pertama kali menangis. Pada saat manusia berumur 3 hingga 4 bulan, ia mulai memproduksi bunyi-bunyi. Mulai mengoceh saat umur 5 dan 6 bulan, kemudian ocehan ini pun lama-kelamaan semakin bertambah sampai sang anak mampu memproduksi perkataan yang pertama.
Pemerolehan bahasa merupakan suatu proses perkembangan bahasa manusia. Kanak-kanak sejak lahir telah diberi kemampuan untuk memperoleh bahasanya. Pemerolehan bahasa ini dipengaruhi pula oleh interaksi sosial dan perkembangan kognitif anak. Kemampuan berbahasa seseorang diperoleh melalui sebuah proses sehingga perlu ada pendekatan-pendekatan tertentu di dalamnya. Pendekatan ini pun diarahkan berdasarkan tujuan pencapaian tertentu seperti kemampuan sintaksis, semantik, dan fonologis yang dalam proses pemerolehannya, dilakukan secara bertahap.
Atas dasar uraian diatas penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pemerolehan bahasa anak usia 3 tahun pada tataran sintaksis, semantik, dan fonologi. Objek dalam penelitian ini yaitu seorang anak perempuan berusia 3,1 tahun bernama Nadya Fitri Aulia (Nadya).

B.   Metode Penelitian

Objek Penelitian
Objek penelitian dalam penelitian ini adalah seorang anak perempuan berusia 3,1 tahun bernama Nadya Fitri Aulia. Nadya dilahirkan  di keluarga yang dwibahasawan yaitu bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Ayah dan ibu Nadya menggunakan bahasa Sunda dan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Dapat dikatakan Nadya seorang dwibahasawan alamiah, karena pemerolehan bahasa Nadya berupa bahasa Sunda dan bahasa Indonesia sekaligus. Apabila lawan bicara Nadya menggunakan bahasa Indonesia, Nadya akan merespon lawan bicaranya tersebut menggunakan bahasa Indonesia, begitu pula sebaliknya. Hal itu mengakibatkan dalam tuturan Nadya seringkali terdapat campur kode dan alih kode. Namun, agar penelitian ini tidak terlalu melebar, dalam penelitian ini hanya akan diteliti pemerolehan bahasa Indonesianya saja.
Setting Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kamar pribadi kakak dari objek penelitian berukuran 4 x 3 meter di salah satu rumah di Jalan Mochamad Toha, Kota Bandung. Peneliti merekam situasi objek ketika sedang bertelepon dengan lawan tuturnya menggunakan video kamera. Penelitian ini menggunakan metode observasi (metode simak) dan metode cakap. Metode simak yang dilakukan dengan cara merekam kemudian mentranskripsikan hasil simakan yang diperoleh. Sedangkan metode cakap dilakukan dengan peneliti terlibat percakapan dengan Nadya selaku objek penelitian secara langsung.

C.   Landasan Teori
Chaer (2009: 167) menyatakan bahwa pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak seseorang kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Ada dua proses yang terjadi ketika seorang kanak-kanak sedang memperoleh bahasa pertamanya, yaitu proses kompetensi dan proses performansi. Kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak disadari. Proses kompetensi ini menjadi syarat untuk terjadinya proses performansi yang terdiri dari dua proses, yakni proses pemahaman dan proses penerbitan atau proses menghasilkan kalimat-kalimat. Kedua jenis proses kompetensi ini apabila telah dikuasai kanak-kanak akan menjadi kemampuan linguistik kanak-kanak itu.
Beberapa linguis generatif (Tarigan, 2009: 38) yakin bahwa suatu tata bahasa terdiri atas tiga komponen utama yang masing-masing komponen melukiskan seperangkat kaidah linguistik tertentu, yaitu komponen sintaksis, komponen semantik, dan komponen fonologi. Komponen sintaksis menjumlahkan suatu perangkat tali simbol tata bahasa yang tidak terbatas banyaknya, masing-masing dengan pemerian struktural yang tepat. Komponen semantik beroperasi pada rangkaian formatif bersama-sama dengan pemerian strukturalnya yang menghasilkan suatu interpretasi semantik bagi setiap tali atau untaian. Komponen fonologi memetakan setiap tali sintaksis menjadi gambaran ciri-ciri fonetik yang paling terperinci, yaitu menyajikan setiap kalimat dengan ucapannya.
Dari deskripsi di atas dapat dinyatakan bahwa pemerolehan bahasa anak merupakan suatu proses yang berlangsung terus-menerus secara bertahap. Pemerolehan bahasa seseorang dapat dinilai atau dilihat dari sistem komunikasi linguistiknya yang berada pada tataran sintaksis, tataran semantik, dan tataran fonologi. Oleh karena itu, penelitian tentang pemerolehan bahasa anak secara mendalam dengan memerhatikan ketiga tataran tersebut terasa sangat penting dilakukan.

D.   Temuan Penelitian dan Pembahasan

Pemerolehan Sintaksis
Pemerolehan bahasa Nadya pada tataran sintaksis sudah cukup baik. Hal ini terlihat dari data yang didapatkan. Nadya sudah bisa membuat kalimat yang bersifat deklaratif, interogatif, imperatif. Kemudian menempatkannya pada situasi yang tepat. Contoh kalimat bersifat deklaratif yang dibuat Nadya tampak pada kutipan peristiwa tutur berikut.

P1: Dede, tetehnya ada ga?
P2: Ada, lagi, lagi bobo.
Kalimat tutur diatas menggambarkan Nadya (P2) sudah dapat memberitakan sesuatu kepada orang lain. Dalam kalimat tutur di atas Nadya memberitakan kepada P1 bahwa kakaknya sedang ada bersamanya dan kakaknya tersebut sedang tidur.

P2: Teteh, punya poto ga?
P3: Punya.

Kalimat tutur di atas menggambarkan Nadya (P2) membuat kalimat yang bersifat interogatif. Nadya sudah bisa menanyakan sesuatu pada kakaknya (P3). Dalam kalimat tersebut, nadya menggunakan kata ga untuk menanyakan apakah kakaknya punya foto atau tidak.

P2: Nih teh! (Nadya memberikan telepon genggam kepada kakaknya)

Kalimat imperatif memiliki makna memberikan perintah untuk melakukan sesuatu sehingga tanggapan yang diharapkan berupa tindakan dari orang yang diperintahnya. Dalam kalimat di atas, Nadya (P2) ingin kakaknya memberikan tanggapan berupa tindakan yaitu mengambil telepon genggam dari tangan Nadya.
Kalimat yang dibuat Nadya sudah cukup baik, namun dalam proses menghasilkan ujaran, Nadya mengalami sedikit kesulitan dalam tahap pengolahan sintaksis yang akan diujarkannya. Contohnya dalam kutipan peristiwa tutur berikut.

P2: Punya, tuh punya.
P1: Oh, punya. Kalo dede punya ga?
P2: Dede? Punya juga, punya dede mah, punya juga.

Dalam kalimat tutur di atas, Nadya (P2) membuat kalimat tak berklausa punya, tuh punya untuk menyatakan bahwa kakaknya punya poto. Kemudian ketika ditanyakan apakah Nadya juga punya poto seperti kakaknya, Nadya menjawab punya juga, punya dede mah, punya juga. Terjadi pengulangan pada kalimat tutur yang dibuat Nadya yaitu pengulangan kata punya bahwa Nadya juga memiliki apa yang ditanyakan oleh lawan bicaranya (P1).

Pemerolehan Semantik
Pemerolehan bahasa Nadya pada tataran semantik berjalan dengan baik, sama halnya dengan kanak-kanak lainnya yang berusia di atas 2 tahun yang telah mulai menguasai kamus makna. Penyesuaian kamus makna kata ini merupakan perkembangan kosakata kanak-kanak yang dilakukan baik secara horizontal maupun secara vertikal. Pemerolehan semantik Nadya dapat dilihat pada kutipan peristiwa tutur berikut.

P1: Di mana?
P2: Di sini? Nadya, pas malem, Nadya, udah itu, udah jalan-jalannya, beli baju  
        yang banyak. Ini bajunya yang banyak, ini bajunya banyak.
P1: Mana baju banyak teh?
P2: Pororo ini mah bajunya teh, Pororo.

Dalam kutipan peristiwa tutur di atas, Nadya (P2) menyatakan bahwa pada suatu malam dia berjalan-jalan kemudian membeli baju yang banyak. Kemudian ketika dalam percakapan di atas, Nadya sedang menggunakan baju yang banyak. Dalam kalimat ini bajunya yang banyak, ini bajunya banyak, yang dimaksud Nadya bukanlah Nadya sedang menggunakan banyak baju atau menggunakan baju yang banyak, yang berarti lebih dari satu baju. Tetapi maksud Nadya adalah baju yang sedang dipakai Nadya tersebut adalah salah satu dari beberapa baju yang dibelinya itu.
Penyebutan baju yang banyak yang dimaksud Nadya terhadap satu baju yang dipakainya, yang merupakan satu dari sekian baju yang dibelinya itu,  didasarkan pada ciri yang khas dari baju itu yaitu baju yang dibeli pada malam saat sedang berjalan-jalan dengan keluarganya. Hal ini memperlihatkan penguasaan Nadya terhadap medan semantik.
Kemudian saat Nadya ditanya Mana baju banyak teh? yang menanyakan baju yang banyak yang dimaksud Nadya, Nadya menjawab Pororo ini mah bajunya teh, pororo sebagai rujukan terhadap baju yang dikenakannya. Pororo merupakan tokoh kartun yang berbentuk penguin. Baju yang dikenakan Nadya bergambar tokoh Pororo.

Pemerolehan Fonologi
Data fonologis yang berhasil dihimpun pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:

Kata
Pengucapan (seharusnya)
Pengucapan (fakta)
situ
/situ/
/situh/
foto
/foto/
/poto/
iya
/iya/
/iyah/
temennya
/temennya/
/temennyah/
terus
/terus/
/telus/
rumah
/rumah/
/lumah/
itu
/itu/
/ituh/
pororo
/pororo/
/porolo/
lagi
/lagi/
/lagih/
yuni
/yuni/
/uni/
arni
/arni/
/ani/
duduknya
/duduknya/
/duduknyah/

Berdasarkan data di atas, terdapat beberapa bunyi laringal [h] yaitu penambahan fonem /h/ pada kata yang berakhiran vokal /u/, /i/, dan /a/, yaitu dari pengucapan yang seharusnya /situ/ menjadi /situh/, /itu/ menjadi /ituh/, /lagi/ menjadi /lagih/, /iya/ menjadi /iyah/, /temennya/ menjadi /temennyah/, dan pengucapan yang seharusnya /duduknya/ menjadi /duduknyah/.
Terjadi pula perubahan fonem /f/ menjadi /p/ yaitu dari /foto/ menjadi /poto/. Kemudian perubahan fonem /r/ menjadi /l/ yaitu dari pengucapan yang seharusnya /terus/ menjadi /telus/ dan dari /rumah/ menjadi /lumah/. Pengucapan kata yang seharusnya /pororo/ cukup unik karena Nadya bisa mengucapkan fonem /r/ pada silaba kedua hanya saja pengucapan fonem /r/ pada silaba ketiga menjadi /l/ kembali, yaitu pengucapan yang seharusnya /pororo/ menjadi /porolo/.
Terjadi pula penghilangan fonem yang tidak diberi tekanan yaitu fonem /y/ dari pengucapan yang seharusnya /yuni/ menjadi /uni/ dan fonem /r/ dari pengucapan yang seharusnya /arni/ menjadi /ani/. Kata /yuni/ dan /arni/ yang merupakan sebuah nama, pengucapannya berubah menjadi /uni/ dan /ani/ mungkin karena sudah menjadi kebiasaan pada Nadya sejak kecil, karena saat usia Nadya lebih kecil dari sekarang sering mengucapkan /yuni/ dengan /uni/ dan /arni/ dengan /ani/. Hal tersebut belum berubah sampai saat ini, meskipun Nadya sekarang sudah bisa mengucapkan /y/ atau bisa mengubah pengucapan fonem /r/ menjadi /l/. Nadya bisa saja mengucapkan /yuni/ ataupun yang seharusnya /arni/ menjadi /alni/.
Proses fonologis yang dialami oleh Nadya menunjukan adanya kesesuaian dengan pemerolehan bahasa tipikal yang dialami oleh kanak-kanak lain seusianya pada umumnya. Dari hasil analisis Nadya banyak mengeluarkan bunyi laringal [h] pada kalimat yang berakhiran vokal /u/, /i/, dan /a/. Nadya juga mengalami proses fonologis yang mengakibatkan perubahan bunyi /r/ menjadi /l/. Bunyi /r/ dan /l/ sama-sama berada pada titik artikulasi alveolum, dengan demikian perubahan ini wajar bagi anak seusia Nadya.

E.    Simpulan dan Saran

Simpulan
Pemerolehan bahasa pada tataran sintaksis, semantik, dan fonologi Nadya selaku objek penelitian sudah cukup baik. Tidak terdapat penyimpangan yang berarti dalam tuturan yang dihasilkan. Pemerolehan bahasa anak usia 3 tahun berada pada tahap perkembangan kalimat. Anak sudah mengenal pola dialog, sudah mengerti kapan gilirannya berbicara dan kapan giliran lawan tuturnya berbicara. Anak telah menguasai hukum-hukum tata bahasa yang pokok dari orang dewasa, perbendaharaan kata berkembang, dan perkembangan fonologi dapat dikatakan telah berakhir. Mungkin masih ada kesukaran pengucapan beberapa konsonan namun segera akan berhasil dilalui anak.

Saran
Peneliti menyadari penelitian ini sangat terbatas, selain data yang sedikit penelitian ini pun belum didukung oleh teori–teori yang lebih komprehensif dan analisis yang lebih mendalam. Penelitian lanjutan perlu dilakukan guna mengetahui lebih dalam mengenai pemerolehan bahasa yang dialami oleh anak usia 3 tahun.

F.    Referensi
Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.
Damaianti, Vismaia S. dan Nunung Sitaresmi. 2006. Sintaksis Bahasa Indonesia. Bandung: Pusat Studi Literasi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI.
Mar’at, Samsunuwiyati. 2009. Psikolinguistik: Suatu Pengantar. Bandung: PT Refika Aditama.
Sitaresmi, Nunung dan Mahmud Fasya. 2011. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Bandung: UPI Press.
Sunanto, Juang dan Koji Takeuchi, Hideo Nakata. 2006. Penelitian dengan Subyek Tunggal. Bandung: UPI Press.
Tarigan, Henry Guntur. 2009a. Pengajaran Kompetensi Bahasa. Bandung: Angkasa.
------- 2009b. Psikolinguistik. Bandung: Angkasa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar