BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Chairil Anwar adalah legenda sastra yang hidup di batin masyarakat
Indonesia. Tak ada penyair Indonesia lebih dikenal dibanding Chairil Anwar. Tak ada penyair Indonesia lebih banyak dikenang dibanding Chairil Anwar, seorang penyair terkemuka Indonesia. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 dan puisi modern Indonesia. penyair yang memelopori pembebasan bahasa Indonesia dari tatanan lama ini adalah juga seorang pengembara batin yang menghabiskan usianya hanya untuk puisi.
Ia meninggalkan warisan karya yang tidak begitu banyak, yaitu 70
puisi asli, 4 puisi saduran, 10 puisi terjemahan, 6 prosa asli, dan 4
prosa terjemahan, namun semua karyanya itu merupakan karya yang sangat berharga bagi dunia sastra Indonesia.
1.2 Fokus Objek Apresiasi
Chairil Anwar adalah seseorang yang luar biasa, ia romantis namun memiliki semangat hidup yang menyala-nyala, sebentuk optimisme anak muda yang yakin sepenuhnya pada potensi dirinya sendiri. Ia menciptakan puisi-puisi tentang kemerdekaan, tentang cinta yang pedih, maupun tentang maut yang selalu menggeluti pikirannya.
Dalam makalah ini, penulis membatasi fokus objek apresiasinya yaitu kepada beberapa puisi tentang kematian, yaitu Nisan, Nocturno (fragment), dan Yang Terampas dan Yang Putus.
Penulis akan mengapresiasi puisi-puisi tersebut mulai dari penjedaan, parafrase, apresiasi struktur batin dan fisik puisi tersebut serta mengenai kepengarangannya.
1.3 Tujuan
Tujuan dari mengapresiasi puisi-puisi karya Chairil Anwar adalah untuk lebih mengenal dan memahami puisi-puisi Chairil anwar tersebut dari segi penjedaan dan membuat parafrase yang tepat serta dapat mengapresiasi struktur batin dan fisik puisi beserta kepengarangan Chairil Anwar.
BAB 2
ISI
2.1 Penjedaan
A. NISAN
Untuk nenekanda
//Bukan kematian benar menusuk kalbu/
/Keridlaanmu menerima segala tiba/
/Tak kutahu/ setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertakhta//
Oktober 1942
B. Nocturno
(Fragment)
..........................................................
//Aku menyeru – tapi tidak satu suara
membalas,/ hanya mati di beku udara./
/Dalam diriku terbujur keinginan,/
juga tidak bernyawa./
/Mimpi yang penghabisan minta tenaga,/
Patah kapak,/ sia-sia berdaya,/
Dalam cekikan hatiku/
/Terdampar..../ Menginyam abu dan debu
Dari tinggalannya suatu lagu./
/Ingatan pada Ajal yang menghantu./
Dan dendam yang nanti membikin kaku..../
..................................................
/Pena dan penyair/ keduanya mati,
Berpalingan!//
1946
C. Yang Terampas dan Yang Putus
//kelam dan angin lalu mempesiang diriku,/
mengigir juga ruang/ di mana dia yang kuingin,/
/malam tambah merasuk,/ rimba jadi semati tugu/
/di Karet,/ di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru angin/
/aku berbenah dalam kamar,/ dalam diriku jika kau datang/
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;/
/tapi kini/ hanya tangan yang bergerak lantang/
/tubuhku diam dan sendiri,/ cerita dan peristiwa berlalu beku//
1949
2.2 Parafrase
A. NISAN
Untuk nenekanda
Bukan (lah) kematian (yang se) benar (nya) menusuk kalbu (ku, tapi)
Keridlaanmu (lah nenek, yang) menerima segala (nya itu telah) tiba (.)
Tak kutahu (, bahwa kematian) setinggi itu di atas debu
dan (disertai) duka (dari) maha tuan (yang) bertakhta.
Oktober 1942
B. Nocturno
(Fragment)
.....................................................................................
Aku menyeru (,) – tapi tidak (ada) satu suara (pun yang)
membalas, (suaraku) hanya mati di beku (nya) udara.
Dalam diriku terbujur keinginan,
(agar diriku) juga tidak bernyawa.
Mimpi yang (dalam) penghabisan (nya me) minta tenaga,
(hingga) Patah kapak, sia-sia (tak) berdaya,
Dalam cekikan (di) hatiku (.)
(akhirnya aku) Terdampar... (hanya bisa) menginyam abu dan debu
Dari tinggalannya suatu lagu.
Ingatan pada Ajal yang menghantu (sejak dulu) .
Dan dendam (ini) yang nanti (nya) membikin kaku....
......................................................................
Pena dan penyair (, akhirnya) keduanya mati,
Berpalingan!
1946
C. Yang Terampas dan Yang Putus
(suasana menjadi) kelam dan (disertai) angin (yang telah) lalu (itu) mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin (kan untuk berada),
(dinginnya) malam (kian) tambah merasuk, (hingga) rimba jadi semati tugu
(akhirnya) di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru
angin (ini)
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika (nanti) kau
datang
dan aku bisa lagi (me) lepaskan kisah baru padamu;
(te) tapi kini hanya (ada) tangan yang bergerak (dengan) lantang (nya)
tubuhku (hanya bisa ter) diam dan sendiri, cerita dan peristiwa (selama ini, pada akhirnya ikut) berlalu (dan) beku
1949
2.3 Apresiasi Struktur Fisik dan Struktur Batin
A. Nisan
1. Struktur Fisik Puisi Chairil Anwar
a. Diksi (diction)
Sajak tertua Chairil Anwar, sajak ini membebaskan bahasa Indonesia dari aturan-aturan lama (ejaan van Ophusyen) yang waktu itu cukup mengekang, menjadi bahasa yang membuka kemungkinan-kemungkinan sebagai alat pernyataan yang sempurna.
Kata-kata dalam sajak ini dipilih dengan sangat cermat sehingga terlihat kaitan antara makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Sajak Nisan ini, kata-katanya sedikit namun dapat mengungkapkan banyak hal.
b. Imaji, daya bayang (imagery)
Chairil anwar dalam sajaknya ini menggambarkan besarnya kematian, Bukan kematian benar menusuk kalbu. Setinggi itu atas debu dan duka. Sehingga kita merasakan betapa besarnya kematian. Chairil juga menggambarkan adanya citra kesedihan, yaitu kesedihan karena kehilangan orang yang sangat disayanginya.
c. Kata konkret (the concrete word)
Kata 'kematian' dalam sajak ini menggambarkan kematian yang sesungguhnya atau realitas namun misterius. Kematian yang pasti akan terjadi pada setiap orang yang hidup di dunia ini yang selalu disertai dengan kemisteriusannya.
d. Gaya bahasa (figurative language)
Terdapat relasi kebertautan dari unsure yang berdekatan. Disini terdapat majas personifikasi dan sinekdoke. Bukan kematian benar menusuk kalbu, maksudnya kematian itu sangat kuat hingga merasuk ke dalam jiwa dan raga manusia.
e. Irama dan rima (rhythm and rime)
Sajak nisan ini berirama metrum, yaitu irama yang tetap dalam bentuk tekanan yang rendah dengan tempo yang lambat dan menekan untuk membawa suasana kesedihan. Sajak Nisan ini memiliki rima bersilang, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama antara akhir larik pertama dengan larik ketiga dan larik kedua dengan larik keempat (ab-ab).
2. Struktur Batin Puisi Chairil Anwar
a. Tema-arti (sense)
Mengemukakan duka yang dalam akan kepergian neneknya, juga akan kekaguman pada neneknya pada keridlaanmu menerima segala tiba. Tak kutahu setinggi itu atas debu dan duka maha tuan bertahta. duka maha tuan bertahta.
b. Rasa (feeling)
Penyair berduka namun berusaha sabar dan merelakan kepergian neneknya yang dengan ridla menerima kematian. Meskipun penuh pertanyaan tentang kematian dalam dirinya.
c. Nada (tone)
Penyair menyampaikan tema dengan mengemukakan segala rasa dan pikirannya serta bersikap rendah hati pada pembaca sehingga pembaca dapat mengerti apa yang dirasakan penyair dari kata-kata dalam sajaknya.
d. Tujuan, amanat (intention)
Merupakan renungan Chairil tentang kematian, yang di matanya teramat misterius, namun tak terhindarkan oleh siapa pun.
B. Nocturno
1. Struktur Fisik Puisi Chairil Anwar
a. Diksi (diction)
Pemilihan diksi penyair dalam sajak ini lebih dalam. Terlihat bahwa penyair sudah pandai dalam memilih kata. Pemilihan kata-kata yang biasa di dengar dalam kehidupan sehari-hari yang tersusun dan menjadi lebih berarti serta benar-benar mendukung maksud puisinya.
b. Imaji, daya bayang (imagery)
Penyair menggunakan citra intelektual, membayangkan proses datangnya kematian pada dirinya. Ia penggunakan citra pendengaran, Aku menyeru – tapi tidak satu suara membalas, citra gerak, Pena dan penyair keduanya mati, Berpalingan!.
c. Kata konkret (the concrete word)
Kematian dan proses berlangsungnya kematian itu pun digambarkan secara nyata oleh penyair. Dimana orang yang mati akan terbujur kaku dan lepas dari segala yang masih hidup.
d. Gaya bahasa (figurative language)
Gaya bahasa penyair dalam sajak ini sangat menarik. Dengan gambaran proses kematian sesuai dengan gambaran nyata, melalui pemilihan kata-kata yang unik. Menginyam abu dan debu. Dari tinggalannya suatu lagu. selain itu, terdapat metafora dan allegori, Pena dan penyair keduanya mati, Berpalingan!.
e. Irama dan rima (rhythm and rime)
Memiliki irama yang bergantian antara tinggi dan rendah secara teratur. sajak Chairil ini mulai terlepas dari aturan-aturan lama. Hanya pada bait kedua berirama rangkai/rima rata, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama pada akhir semua larik (aaaa).
3. Struktur Batin Puisi Chairil Anwar
a. Tema-arti (sense)
Ternyata maut masih menggelayuti pikirannya, dalam puisi ini penyair menggambarkan proses datangnya kematian. sang penyair bahkan seakan meramalkan sendiri bahwa hidupnya akan singkat.
b. Rasa (feeling)
Penyair bersikap lebih mengerti dan semakin dapat menerima bahwa kematian memang sudah seharusnya datang dan harus diterima kapanpun sang kematian itu ingin datang.
c. Nada (tone)
Penyair masih bersikap rendah hati, isi sajaknya hanya menyatakan isi perasaannya dan kita sebagai pembaca dapat mengerti apa yang sebenarnya dirasakan penyair yang dia ungkapkan melalui sajaknya ini.
d. Tujuan, amanat (intention)
penyair hanya ingin menyatakan pandangan hidupnya serta keyakinannya akan sesuatu yang dinamakan kematian.
C. Yang Terempas dan Yang Putus
1. Struktur Fisik Puisi Chairil Anwar
a. Diksi (diction)
Pemilihan kata yang semakin indah, menandakan bahwa penyair semakin maju dalam memilah kata yang tepat dan penuh arti di setiap kalimat-kalimatnya yang sesuai dengan maksud dan tujuan sang penyair yang ingin disampaikan dalam sajaknya.
b. Imaji, daya bayang (imagery)
Setelah sebelumnya penyair menggambarkan proses dari suatu kematian, dalam sajaknya kali ini penyair menggambarkan keadaan sesaat setelah dirinya meninggal dimana ia terkubur di tempat peristirahatan yang terakhir, mengigir juga ruang di mana dia yang kuingin. di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru angin. aku berbenah dalam kamar. Menggambarkan keadaan dirinya yang hanya dapat diam terbujur kaku, tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang. tubuhku diam dan sendiri.
c. Kata konkret (the concrete word)
Karet, sebuah tempat berisikan kamar yang digambarkan penyair sebagai tempat peristirahatan terakhir dirinya saat ia meninggal, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru angin. aku berbenah dalam kamar.
d. Gaya bahasa (figurative language)
Keunikan sang penyair adalah dalam gaya bahasa dalam setiap sajaknya yang menarik. Disinio terdapat personifikasi, kelam dan angin lalu mempesiang diriku. mengigir juga ruang di mana dia yang kuingin.
e. Irama dan rima (rhythm and rime)
Irama pergantian bunyi tinggi rendahnya sangat teratur, menimbulkan bayangan yang jelas tentang situasi yang digambarkan penyair dalam sajaknya. Sajak ini menggunakan rima bersilang, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama antara akhir larik pertama dengan larik ketiga dan larik kedua dengan larik keempat (ab-ab).
4. Struktur Batin Puisi Chairil Anwar
a. Tema-arti (sense)
Penyair secara jelas menulis kesiapannya untuk menghadapi
kematian. penyair ingin menggambarkan keadaan ketika dirinya telah meninggal. ia berada di tempat peristirahatan terakhirnya yaitu tempat dimana ia dikuburkan.
b. Rasa (feeling)
Penyair bersikap menerima keadaan yang dirasakannya, dalam sajak ini penyair menerima kematian yang mendatanginya. Yang tersisa kini hanya tangan yang bergerak lantang. Bersamaan dengan itu, sang penyair mulai membayangkan pemakaman tempat dia akan dikuburkan, yaitu di Karet, di mana tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.
c. Nada (tone)
Seperti sajak-sajaknya sebelumnya, sikap rendah hati yang ditonjolkan oleh penyair, tanpa menunjukkan keangkuhan ataupun sikap bertentangan lainnya. Ungkapan curahan perasaan penyair dalam kata-kata indah yang membuat pembaca mengerti apa yang dirasakannya.
d. Tujuan, amanat (intention)
Penyair hanya mengungkapkan pandangan dan keyakinannya terhadap kematian yang pasti akan datang dan gambaran penyair akan keadaan setelah kematian dilaluinya dalam setiap kata-kata dalam sajaknya ini.
2.4 Apresiasi Pengarang (Ekstraestetik)
Chairil Anwar lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922. Chairil Anwar merupakan anak tunggal. Ayahnya bernama Toeloes, mantan bupati Indragiri Riau, berasal dari nagari Taeh Baruah, Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Sedangkan dari pihak ibunya, Saleha yang berasal dari nagari Situjuh, Limapuluh Kota dia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia.
Chairil masuk sekolah Holland Indische school (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu penjajah Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah menengah pertama belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan.
Pada usia sembilan belas tahun, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia sastera. Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman, dan dia mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.
Gaya bersajak dan elan vital dalam puisi-puisinya yang bercorak individualistis dan mem-Barat membedakannya dengan kecenderungan puisi-puisi yang dilahirkan generasi sebelumnya (baca: Poedjangga Baroe).
Bukan secara kebetulan agaknya jika sajak-sajak Chairil memiliki
nuansa individualistis yang kental. Pergumulan total Chairil dengan kesenian agaknya telah menuntun sang penyair terjerembab dalam sebuah ritus pencarian filosofis.
Adalah bahasa Chairil, yaitu bahasa yang meminjam kata-katanya sendiri, mempribadi dan menjadi, yang menjadikan puisi-puisinya sedemikian penting dalam sejarah puisi Indonesia. Juga bagi perkembangan bahasa Indonesia. Dengan puisi-puisinya, sang penyair membuktikan bahwa bahasa Indonesia sanggup menjadi bahasa sastra yang demikian efektif dan modern. Dia mendorong beberapa langkah lagi apa yang telah dilakukan penyair-penyair pendahulunya, khususnya Amir Hamzah, dalam usaha menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa modern lewat puisi. Dengan demikian, pada tingkat makro penyair kita ini menyuarakan semangat zaman dan bangsanya, pada tingkat mikro dia membuktikan efektivitas bahasa Indonesia sebagai alat ucap puisi modern.
Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya, yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena sejumlah penyakit. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun karena penyakit TBC. Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.
Buku-buku
• Deru Campur Debu (1949)
• Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
• Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
• "Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949", diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
• Derai-derai Cemara (1998)
• Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
• Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck
Terjemahan ke dalam bahasa asing
Karya-karya Chairil juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol. Terjemahan karya-karyanya di antaranya adalah:
• "Sharp gravel, Indonesian poems", oleh Donna M. Dickinson (Berkeley? California, 1960)
• "Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati" (Madrid: Palma de Mallorca, 1962)
• Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963)
• "Only Dust: Three Modern Indonesian Poets", oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)
• The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
• The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
• Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
• The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)
BAB 3
PENUTUP
3.1 Simpulan
Chairil Anwar, seorang penyair yang legendaris. Dengan puisi-puisinya, sang penyair membuktikan bahwa bahasa Indonesia sanggup menjadi bahasa sastra yang demikian efektif dan modern. Cara menyampaikan pikiran atau perasaannya menimbulkan ciri gaya bahasa tersendiri terhadap karya-karya Chairil Anwar. Sehingga perasaan yang ingin disampaikan penulis menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam pikiran pembaca.
Dalam beberapa puisinya yaitu Nisan, Nocturno (fragment), dan Yang Terampas dan Yang Putus, terlihat sekali bahwa maut selalu menggelayuti pikirannya. Sang penyair bahkan seakan meramalkan sendiri bahwa hidupnya akan singkat. Hingga akhirnya ia meninggal dalam usia muda di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun karena penyakit TBC. Dan seperti memenuhi pesan profetik dalam salah satu bait puisinya: "di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru angin.", Chairil dimakamkan di Pemakaman Karet pada hari berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Chairil. 2007. Aku Ini Binatang Jalang. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Sardjono, Partini. 1992. Pengantar Pengkajian Sastra. Bandung: Yayasan Pustaka
Wina.
Pradopo, Rahmat Djoko. 2007. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
http://id.wikipedia.org/wiki/Chairil_Anwar
http://jamaldrahman.wordpress.com/2009/03/18/chairil-anwar-gelora-hidup-gelora-
cinta/
http://sasteramaya.tripod.com/ChairilAnwar.htm
http://oyoth.multiply.com/journal/item/2/ANALISIS_PUISI
Sebuah blog yang berisi segala sesuatu yang berkaitan dengan arni yanti, pendidikan, bahasa, dan sastra ..
Tampilkan postingan dengan label analisis sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label analisis sastra. Tampilkan semua postingan
Rabu, 12 Januari 2011
Analisis Novel Ziarah karya Iwan Simatupang
1.1 Apresiasi Novel Ziarah Karya Iwan Simatupang
1.1.1 Profil Iwan Simatupang
Iwan Simatupang dilahirkan di Siboga 18 Januari 1928, meninggal di Jakarta, 4 Agustus 1970. Nama lengkapnya Iwan Martua Lokot Dongan Simatupang. Mendapat pendidikan HBS di Medan, sekolah dokter di Surabaya (tidak selesai), lalu belajar antropologi dan filsafat di Rijk-Universiteit Leiden, dan Paris. Dikenal sebagai wartawan dan sastrawan. Sebagai penulis, ia sudah memulainya pada tahun 1952 di majalah Siasat dan Mimbar Indonesia. Terkenal karena 2 novelnya Merahnya Merah(1986) dan Ziarah(1970). Ia juga menulis drama, antara lain Cactus dan Kemerdekaan dan Petang di Taman. Dua novelnya yang lain Kering (1972) dan Koong (1975), terbit setelah ia meninggal. Merahnya Merah mendapat Hadiah Nasional 1970, dan Ziarah dalam terjemahan bahasa Inggris mendapaty hadiah roman ASEAN terbaik 1977. (Bahan: Ensiklopedi Indonesia).
1.1.2 Ikhtisar
Di sebuah negeri yang bernama Kotapraja, terdapat seorang pelukis terkenal di seluruh negeri yang dibuat terkapar tidak berdaya alias shock dan trauma setelah ditinggal mati istrinya yang sangat dia cintai, istri yang dia kawini dalam perkawinan secara tiba-tiba. Suatu ketika Pelukis mencoba bunuh diri karena ketenaran karya lukisnya yang memikat semua orang dijagat bumi ini yang mengakibatkan ia memiliki banyak uang dan membuat dia bingung. Karena kebingungannya ini sang Pelukis berniat bunuh diri dari lantai hotel dan ketika terjun dia menimpa seorang gadis cantik. Dan tanpa diduga pula sang pelukis langsung mengadakan hubungan jasmani dengan si gadis diatas jalan raya. Hal ini membuat orang-orang histeris dan akhirnya seorang brigadir polisi membawa mereka ke kantor catatan sipil dan mengawinkan mereka.
Pelukis merasa benar-benar kehilangan terutama saat dia tahu bahwa istrinya mati, Pelukis pun langsung pergi ke kantor sipil guna mengurusi penguburan istrinya tetapi tak ada tanggapan positif dari pengusaha penguburan. Itu terjadi karena Pelukis tak tahu apa-apa tentang istrinya. Yang dia tahu hanyalah kecintaannya pada istrinya. Sehingga mayat istrinya terkatung-katung karena tak memiliki surat penguburan yang syah. Pelukis pun menghilang ketika dicari walikota (diangkat menjadi walikota setelah walikota pertama gantung diri karena tak bisa memecahkan masalah mengundang Pelukis saat akan ada kunjungan tamu asing) yang ikut menghadiri penguburan Istri pelukis.
Sampai akhirnya pengusaha penguburan itu menyesali perbuatannya dan dengan keputusan Walikota akhirnya mayat Istri pelukis dikuburkan. Sampai penguburan usai, sang pelukis tak kelihatan. Saat kembali ke gubuknya, dia melihat wanita tua kecil yang ternyata adalah ibu kandung dari istrinya. Bercerita panjang tentang masa lalunya yang suram dan sampai saat terakhir dia bertatapan dengan anaknya yang justru membuat dilema bagi si anak. Dan sesaat kemudian Pelukis memandangi keadaan sekitar yang penuh karangan bunga, membuang bunga-bunga tersebut ke laut kemudian membakar gubuknya sampai habis. Beberapa bunga yang masih tersisa ia bawa ke kuburan istrinya. Ia titipkan karangan bunga pada centeng perkuburan. Ziarah tanpa melihat makam istrinya.
Setelah itu hidup Pelukis semakin tak tentu arah. Ia seolah tak pernah percaya bahwa istrinya telah mati. Pagi harinya hanya digunakan untuk menunggu istrinya ditikungan entah tikungan mana dan malam harinya dituangkan arak keperutnya, memanggil Tuhannya, meneriakkan nama istrinya, menangis dan kemudian tertawa keras-keras.
Hingga akhirnya datang Opseter pekuburan yang meminta dia mengapur tembok perkuburan Kotapraja yang sebelumnya telah berbekas pamplet-pamplet polisi bahwa dia dicari.
Pelukis menerima tawaran itu dan esoknya ia mulai bekerja mengapur tembok perkuburan Kotapraja itu 5 jam berturut-turut tiap harinya, sedangkan Opseter perkuburan mengintip dari rumah dinasnya. Pekerjaan baru Pelukis ini membawa perubahan tingkah laku pelukis sehingga membuat seluruh negeri geger. Hingga Walikota akan memberhentikan Opseter perkuburan. Tetapi ketika mengantar surat pemberhentian kerja itu, Walikota malah mati sendiri karena kata-kata opseter tentang proporsi. Sebelumnya juga pernah terjadi kekacauan di negeri karena Opseter pekuburan memakai rasionalisme dalam kerjanya dan hanya memberi instruksi kerja pada selembar kertas pada pegawainya.
Setelah beberapa hari Pelukis mengapur tembok perkuburan, pada suatu hari dia bergegas pulang sebelum 5 jam berturut-turut. Opseter perkuburan heran kemudian mendatanginya dan ternyata Pelukis ingin berhenti bekerja. Opseter kebingungan tetapi Pelukis menjelaskan bahwa dia tahu maksud opseter memperkerjakannya. Bahwa selain untuk kepentingan opseter sendiri, Opseter ingin Pelukis menziarahi istrinya yang sudah tiada itu. Keesokan harinya Opseter ditemukan gantung diri. Pekuburan geger, tetapi hanya sedikit sekali empati dari pegawai-pegawai pekuburan. Penguburan Opseter berlangsung cepat. Setelah penguburan, Pelukis bertemu Maha guru dari Opseter yang kemudian menceritakan riwayat Opseter.
Pada akhirnya Pelukis pergi ke balai kota untuk melamar menjadi opseter pekuburan agar ia dapat terus-menerus berziarah pada mayat-mayat manusia terutama pada mayat istrinya.
1.1.3 Alur
Alur dalam novel ini sedikit membingungkan pembaca, karena pengarang menggunakan alur “Flash Back”.
Diawal cerita, diceritakan sang pelukis begitu kehilangan setelah ditinggal mati istrinya, tetapi dibagian belakang malah pembaca diajak untuk mengikuti kisah pertemuan Pelukis dengan Istri, kehidupan mereka yang mengundang banyak pesona, dan saat-saat terakhir istrinya mati. Bukan hanya Pelukis dan Istri saja tetapi pengarang juga mengajak pembaca untuk mengikuti kisah balik kehidupan Opseter sebelum menjadi opseter.
1. Traumanya seorang pelukis terkenal di sebuah negara bernama Kotapraja karena kematian istrinya.
2. Kehidupan pelukis semakin tak tentu arah.
3. Pagi harinya hanya digunakan untuk menunggu istrinya di tikungan entah tikungan mana.
4. Malam harinya dituangkan arak keperutnya, memanggil Tuhannya, meneriakkan nama istrinya keras-keras, menangis keras-keras untuk pada akhirnya tertawa keras-keras.
5. Bertemunya Pelukis dengan Opseter perkuburan kotapraja.
6. Dimintanya Pelukis mengapur tembok perkuburan Kotapraja oleh sang Opseter.
7. Diterimanya permintaan Opseter oleh Pelukis.
8. Bekerjanya Pelukis mengapur tembok perkuburan Kotapraja itu 5 jam berturut-turut tiap harinya
9. Mengintipnya Opseter perkuburan dari rumah dinasnya ketika Pelukis bekerja.
10. Pekerjaan baru pelukis ini membawa perubahan tingkah laku Pelukis sehingga membuat seluruh negeri geger.
11. Kedatangan Walikota ke perkuburan Kotapraja untuk memberhentikan Opseter.
12. Meninggalnya Walikota karena kata-kata Opseter tentang proporsi.
13. Bergegasnya Pelukis pulang sebelum bekerja 5 jam berturut-turut.
14. Terjadinya percakapan yang berat antara Opseter dan Pelukis.
15. Ditemukannya Opseter meninggal karena gantung diri.
16. Penguburan Opseter berlangsung cepat.
17. Bertemunya Pelukis dengan Maha guru dari Opseter.
18. Diceritakannya riwayat Opseter kepada Pelukis.
19. Perginya Pelukis ke balai kota untuk melamar menjadi Opseter Pekuburan.
1.1.4 Tokoh/Pelaku
Pelukis : Pelukis adalah tokoh kehidupan, manusia bebas, manusia yang selalu mencari rasa dari alam semesta.
Opseter : Opseter perkuburan terlanjur memunculkan citra tokoh kematian, tragis, filsafat atau ‘kursus dari mati’, rasionalisasi, dan segala yang berkarakter kompleks dan rumit. la tergolong ‘orang yang lebih banyak termenung dari pada hidup’
Istri Pelukis : Seorang istri yang baik, yang mau menerima suaminya, dengan apa adanya.
Maha guru : Seorang kakek bertubuh kurus yang ternyata seorang maha guru Opseter.
Ayah Opseter : Seorang ayah sekaligus hartawan terkaya di seluruh negeri yang sangat sayang dan peduli kepada anaknya dan ingin anaknya mewarisi semua harta kekayaannya.
Walikota : Tokoh yang pendendam dan tidak menyukai warga kotanya, ia menjadi walikota karena ingin menuntaskan manusia-manusi kerdil dekil, yang selama ini tak sedikit pun mendapat penghargaan.
Wakil Walikota : Seorang wakil walikota yang selalu ngin memperoleh pujian dan ingin naik jabatan, ia tidak dapat mengucapkan kata yang terdiri dari dua konsonan sekaligus.
Orang Buta professional : Seorang biasa yang berpura-pura buta karena ingin menjadi orang buta profesional.
Kepala Negara : Seorang pemimpin yang bijaksana dan berwawasan filsafat.
Perdana Menteri : Tidak suka terhadap segala sesuatu yang berbau filsafat, dan ingin naik jabatan.
Nona-nona tua : Perawan-perawan gaek yang selalu ingin mengecap kenikmatan dunia, memiliki sikap yang hormat dan sopan sekali. Mereka senang sekali memandang orang lain dengan tatapan yang tajam.
Brigadier polisi : Bersifat baik hati dan pengertian, tidak mengambil keputusan semata-mata karena hukum dan Undang-undang, melainkan memikirkan sisi kemanusiaannya.
Kepala dinas pekerjaan umum : Tokoh yang hanya melakukan tugas yang sudah seharusnya ia lakukan karena tidak ingin dipecat.
Centeng perkuburan : Tokoh yang bertugas berkeliling dan menjaga pekuburan Kotapraja di malam hari.
Mandor dan pegawai pekuburan : Tokoh-tokoh yang anya melakukan tugas yang sudah seharusnya mereka lakukan, dengan harapan mendapatkan gaji dan juga tambahan dari para kerabat mayat yang mereka kubur.
1.1.5 Latar
Latar Fisik/Tempat
Di tikungan
”….di salah satu tikungan…."(Simatupang, 2001:1)
Rumah kecil
”…ke satu kamar kecil, di satu rumah kecil…."(Simatupang, 2001:1)
Di kaki lima
”…langkah-langkahnya di kaki lima itu,…"(Simatupang, 2001:6)
Di kedai arak
”…dia lari sekencang-kencangnya ke kedai arak… (Simatupang, 2001:2)
Di perkuburan
”..suasana pekuburan di tengah hari…(Simatupang, 2001:10)
Di rumah dinas Opseter
” ..dari celah-celah pintu dan jendela rumah dinasnya di pekuburan itu…(Simatupang, 2001:11)
Kantor Dinas Walikota
”..sidang darurat badan pekerja harian…(Simatupang, 2001:12)
Di alun-alun kota
"orang-orang di alun-alun ikut berteriak"(Simatupang, 2001:19)
Di Istana Negara
"…kabinet kepada parlemen…"(Simatupang, 2001:35)
Di lintasan lari
”…bertulisan besar-besar: FINISH.. (Simatupang, 2001:55)
Di hotel
”..kamarnya di tingkat empat hotel itu.(Simatupang, 2001:73)
Di aspal jalan raya
”..yang sedang asyik diatas aspal panas itu. (Simatupang, 2001:73)
Di kantor catatan sipil
”..pidato singkat penjabat catatan sipil…(Simatupang, 2001:74)
Di gubuk tepi pantai
”..ke gubuk yang masih utuh di pantai. (Simatupang, 2001:89)
Perusahaan Penguburan Swasta
"…adalah salah satu perusahaan penguburan swasta. (Simatupang, 2001:105)
Tembok luar perkuburan
”Dia melompat turun dari tembok. (Simatupang, 2001:126)
Balai kota
"Ke balai kota. (Simatupang, 2001:140)
Waktu
Pagi hari
”… di satu pagi cerah…(Simatupang, 2001:7)
Tengah hari
"Persis tengah hari, mereka berpisahan. (Simatupang, 2001:10)
Sore hari/senja
”Menjelang benamnya matahari,dia…(Simatupang, 2001:11)
Malam hari
"…begitu malam jatuh, perutnya…(Simatupang, 2001:1)
Suasana
Gembira
”..menggegar suatu tawa gempita.. (Simatupang, 2001:15)
Sunyi
”Sunyi senyap di pekuburan itu." (Simatupang, 2001:133)
Takut
”..bukan sorak sorai! tapi teriakan-teriakan takut…(Simatupang, 2001:55)
Ramai
”..ke tengah orang ramai itu…(Simatupang, 2001:55)
Panik
”Hadirin geger." (Simatupang, 2001:55)
Kacau
"Banyak pegawai dan buruh itu lari lintang pukang" (Simatupang, 2001:52)
Gelisah
"Dia mulai gelisah" (Simatupang, 2001:89)
Hening
”Sesudah itu hening, sehening-heningnya"(Simatupang, 2001:3)
Sedih
"Dia tersedu-sedu…"(Simatupang, 2001:122)
1.1.6 Tema
Memberitahukan tentang kehidupan dan realitas dunia yang tidak memiliki dalamnya sebuah kepastian, selalu terjadi sebuah peristiwa kematian.
Sesungguhnya manusia dapat menggenggam kebebasan dalam kedua tangannya sendiri, dan membentuk kebebasan yang dimilikinya menurut kehendaknya sendiri.
Manusia dihadapkan pada sebuah kematian, dihadapkan pada batas akhir hidup, suka atau tidak suka, senang atau tidak senang harus dijalani, sebagaimana kelahirannya sendiri.
1.1.7 Tipe
Novel Ziarah karya Iwan Simatupang ini merupakan tipe novel sastra karena pengarang banyak menggunakan ungkapan-ungkapan ataupun konotasi,dan majas-majas terutama majas personifikasi serta terdapat juga istilah-istilah berbau filsafat yang diolah menjadi kesatuan kalimat yang benar-benar membawa pembaca ke arah pemikiran-pemikiran logis dan membenamkan pembaca dalam novel yang memiliki keindahan ilmu filsafat dari pengarang sendiri.
1.1.8 Nilai
Sastra karena penuh dengan ungkapan dan majas-majas.
Ungkapan-ungkapan ataupun konotasi:
o Pada kedua matanya yang redup, zenith bertemu nadir. (Simatupang, 2001:26)
o Hanya untuk mempersaksikan sepasang merpati yang sedang asyik di atas aspal panas itu. (Simatupang, 2001:73)
o Yang mulia ini bersama staf ahli-ahlinya juga cuma dapat garuk garuk kepala saja.( Simatupang, 2001:35)
o Fraksi-fraksi pro dan kontra sama-sama tarik urat lehernya. (Simatupang, 2001:35)
o ..seolah udara kutub menghembus masuk ke dalam tubuhnya melalui rongga mulutnya.( Simatupang, 2001:46)
Majas Personifikasi
o Rasa riang mendaki dalam dirinya.( Simatupang, 2001:2)
o Dia, Opseter berpikiran setan…( Simatupang, 2001:9)
o …praktek-praktek menjilat atasannya…( Simatupang, 2001:20)
o …mereke terbang ke pintu gerbang.( Simatupang, 2001:28)
Majas Hiperbola
o Tuan adalah nabi seni lukis masa datang. (Simatupang, 2001:69)
Filsafat karena terdapat beberapa istilah filsafat di dalamnya.
o …kebenaran dari jenis subtil, yakni: yang memperhitungkan apa yang disebut nuans. Ya! nuanslah yang terlalu sedikit sekali diperkirakan dalam undang-undang dasar tiap-tiap Negara.Dan kini, demi nuans itu, dia harus membangkang. (Simatupang, 2001:17)
o Yes, truly; for, look you, the sins of the father are to be laid upon the children; therefore, I promise ye, I fear you. I was always plain with you, and so now I speak my agitation of the matter; therefore be of good cheer, for truly I think you are damn’d. The is but one hope in it that can do you any good; and that is but a kind of bastard hope neither. (Simatupang, 2001:38)
1.1.9 Fungsi
Fungsi Rekreatif
Membawa pembaca ke dalam kehidupan tokoh-tokohnya yang bersifat sangat individualistis. Pembaca menjadi tahu bagaimana rasanya menjadi tokoh-tokoh tersebut dan yang masing-masing memiliki keistimewaannya sendiri.
Fungsi Informasi
Manusia yang berhasil dalam kehidupan adalah manusia yang mampu bertransendensi, yang mampu mengatasi badan bukan sebagai tolak ukur tujuan hidupnya, tetapi ‘demi kelengkapan dan kesempurnaan’ hidup itulah eksistensi manusia terbentuk. Jadi, kematian pada dasarnya merupakan kesempurnaan eksistensi sebagai manusia.
Fungsi Penyadaran
Kesadaran manusia tentang kematian masih berupa kecemasan dan ketakutan, dengan novel ini pembaca diberikan penyadaran bahwa sesungguhnya kesadaran akan kematian membuat umat manusia dan individu-individu menjadi matang secara spiritual (spiritual-maturity). Sehingga mereka dapat lebih mengenal dan menghargai hidup.
1.1.10 Pengalaman
Pengalaman Literal Estetis
Bahasa dalam novel ini sangat penuh dengan ungkapan-ungkapan dan majas-majas sehingga menimbulkan keindahan bahasa. Selain itu, banyak pula terdapat istilah-istilah filsafat di dalamnya sehingga semakin menambah kememikatan terhadap novel Ziarah ini.
1.1.11 Kesimpulan Akhir
Ceritanya sangat menarik, sentuhan filsafat pengarang benar-benar tersaji dalam novel ini. Tak kurang dalam setiap bagian novel terdapat kalimat-kalimat yang merupakan ilmu filsafat. Contoh kalimat itu seperti “Balas dendam memerlukan persiapan, pemikiran, memerlukan system filsafat tersendiri yang merentangkan isi, tujuan, faedah dan dalih balas dendam itu nanti kepada dirinya sendiri, kepada anak cucunya dan apabila masih ada juga umat manusia dan kemanusiaan sesudah kurun sejarah kini-juga kepada umat manusia dan kemanusiaan yang akan datang…( Simatupang, 2001:20)”
Gaya humor pengarang juga samar-samar, pembaca harus benar-benar mengerti maksud pengarang dulu sebelum dibuat tertawa membayangkan bahwa itu sangat lucu. Ada beberapa bagian dalam novel yang bisa dikatakan sebagai penunjuk bahwa pengarang memiliki daya humor yang cukup tinggi. Seperti saat ketika opseter dan walikota saling melihat bola mata. Dan saling terkejut dan saling berteriak. Tentu saja mengundang tawa bagi pelukis yang menyaksikannya (Simatupang, 2001:14-15). Juga saat menceritakan kisah ketenaran pelukis, yang justru membuat dia hampir bunuh diri sebelum akhirnya mengawini seorang gadis ( Simatupang, 2001:68-74).
Dalam menghadirkan sebuah masalah, pengarang tidak sungkan untuk mendramatisir, selain itu endingnya juga sangat mengaggumkan. Karena dengan penambahan cerita yang didramatisir itu justru semakin membuat semangat pembaca.
1.2 Apresiasi Cerpen Abracadabra Karya Danarto
1.1.1 Profil
Muncul secara Fenomenal, Danarto (Sragen, Jawa Tengah. 27 Juni 1940) mengejutkan publik sastra dengan cerpen-cerpen yang sangat berbeda dari pola-pola cerpen Idrus, Asrul Sani, Budi Darma, atau Nh. Dini. Danarto menerabas pola baku penulisan cerpen yang sudah dikenal baik, baik mengenai tokoh, setting, peristiwa maupun logika cerita. Atmosfer cerita-cerita Danarto berada pada posisi diantara dunia nyata dan dunia tidak nyata, antara yang abstrak dan yang konkret, antara realitas dan khayal. Ia membebaskan diri dari konvensi dan memasuki sebuah pola inkonvensional yang mencirikan sastra sufistik yang ditulis secara improvisasi.
Ia pernah kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (1958-1961) pernah mengajar di LPKJ sejak (1973-), aktif di Sanggar Bambu sejak (1959-), redaktur majalah Zaman (1979-1985). Tahun 1976 mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, USA.
Ia pernah mendapat beberapa penghargaan, diantaranya, kumpulan cerpennya Adam Ma’rifat mendapat hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta (1982) dan hadiah Yayasan Buku Utrama Departemen P dan K (1982), dan Berhala meraih Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P dan K (1987), tahun 1988 ia memenangkan hadiah Sastra ASEAN.
1.1.2 Ikhtisar
Pada awal diceritakan bahwa kedua tokoh yaitu Hamlet dan Horatio sedang berbincang-bincang sambil melihat-lihat sesuatu di sebuah bazar di sebuah negeri yang bernama Tawangmangu. Mereka membincangkan perihal kasta; dimana Hamlet memerintahkan agar kasta dihapuskan di negaranya agartidak ada lagi ketimpangan berbahasa antara yang derajatnya tinggi dan yang derajatnya rendah; dan juga membicarakan kematian Hamlet yang tidak lama lagi akan ditempuhnya.
Mereka berdua membicarakan tentang kematian apa yang akan terjadi setelah kematian dan bagaimana kematian itu akan menjemput mereka. Akan tetapi disini mereka membicarakan Hamlet yang taklama akan meninggal.
Setelah berbincang, maka Hamlet pun berpamitan. Bukan berpamitan untuk pulang tapi untuk meninggal dunia. Disini rupanya Hamlet memiliki segudang pertanyaan tentang kematiannya itu, sampai-sampai dia berulang kali tidak jadi mati dan ketika akan berpamitan dia terus menerus mencerca Horati dengan permintaan dan pertanyaan.
Setelah Hamlet meninggal muncullah seseorang yang entah siapa menurut Hamlet mendatangi dia di rumahnya sendiri yang padahal sekarang dia sudah berada di alam roh. Mereka pun sama berbincang mengenai kematiannya dan bagaimana rasanya Mati. Setelah dicari tahu ternyata sosok tadi adalah si pengarang atau narator ceritanya.
Lalu Hamlet menceritakan pengalamannya berpetualang di dunia akhirat atau roh. Setelah sekian lama dia bercerita mengenaipengalamannya rupanya roh Hamlet menghilang. Dan Narator atau pengarang berusaha mencari-cari dia.
Akhirnya Hamlet muncul tapi disebuah tempat yang aneh dan tidak diketahuinya. Tempat itu adalah sebuah lambung perut dan dimana lambung itu bisa berubah-ubah warnanya. Setelah Hamlet sadar dilihatnya ada empat sosok orang. Dan ternyata mereka pun Hamlet hamlet sama dengan dia. Hamlet itu ada yang dinamakan Hamlet Kekekalan, kebaikan, kejahatan, dan Hamlet Manasuka.
Hamlet-hamlet yang lain mencoba membujuknya agar mengikuti salah satu dari mereka. Tapi Hamlet tidak mau. Hamlet terus saja berontak dan berusaha lepas dari mereka. Hamlet berusaha meminta pertolongan dan terus memanggil dan menriakkan Horatio agar menolongnya.
Tiba-tiba Hamlet menghilang dan keempat Hamlet yang lain kebingungan mencarai dimana dia. Dan ternyata akhirnya terlihat sadarkan diri di rumahsakit ditemani Horatio yang sejak tadi menunggunya cemas. Hamlet marah kepada Horatio yang telah membuatnya seperti itu, mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan dan malah menghidupkan dia kembali. Padahal Hamlet sudah bahagia bisa mati. Dan ternyata Hamlet mengalami halusinasi dan mati suri. Dan Horatio lah penyebabnya. Abracadabra!!!!
1.1.3 Alur
1. Hamlet dan Horatio sedang berbincang-bincang sambil melihat-lihat sesuatu di sebuah bazar di sebuah negeri yang bernama Tawangmangu.
2. Diperbincangkannya Hamlet yang tak lama akan meninggal.
3. Berpamitannya Hamlet untuk meninggal dunia pada Horatio.
4. Munculnya seseorang yang entah siapa menurut Hamlet mendatangi dia di rumahnya sendiri padahal dia sudah berada di alam roh.
5. Ternyata sosok tersebut adalah si pengarang atau narator ceritanya.
6. Perbincangan mereka pun mengenai kematian dan bagaimana rasanya mati.
7. Lalu Hamlet menceritakan pengalamannya berpetualang di dunia akhirat atau roh.
8. Menghilangnya Hamlet dari hadapan Narator.
9. Akhirnya Hamlet muncul tapi disebuah tempat yang aneh dan tidak diketahuinya.
10. Tempat itu adalah sebuah lambung perut dan dimana lambung itu bisa berubah-ubah warnanya.
11. Dilihatnya ada empat sosok orang yang sama dengan Hamlet.
12. Hamlet itu ada yang dinamakan Hamlet Kekekalan, kebaikan, kejahatan, dan Hamlet Manasuka.
13. Hamlet-hamlet yang lain mencoba membujuknya agar mengikuti salah satu dari mereka.
14. Hamlet terus saja berontak dan berusaha lepas dari mereka.
15. Tiba-tiba Hamlet menghilang dan keempat Hamlet yang lain kebingungan mencarai dimana dia.
16. Akhirnya hamlet terlihat sadarkan diri di Rumah Sakit ditemani Horatio yang sejak tadi menunggunya cemas.
1.1.4 Tokoh/Pelaku
Hamlet : Ditokohkan seorang pangeran yang bijaksana, arif, tapi kurang pandai dan sedikit agak polos.
Horatio : Ditokohkan seorang asisten atau pembantu raja yang patuh dan hormat, pandai, serta setia dan mengasihani.
Narator atau Pengarang : Ditokohkan seseorang yang gaib namun memiliki wujud ketika di alam roh, serba tahu dan aneh.
1.1.5 Latar
Latar Fisik/Tempat
Sebuah bazar di Tawangmangu dengan keadaan Ramai dekat dengan patung air.
“Di Bazar Teheran orang berdatangan menikmati permadani.....”
“mereka duduk di bawah patung air.....”
Alam Roh atau Baka
“Demikianlah, akan tetapi yang menulis karangan ini akan melanjutkan cerita mengenai Hamlet di Alam Baka
Rumah Sakit
“...Hamlet meronta-ronta di tempat tidur rumah sakit....”
Waktu
Siang Hari
Kehidupan setelah mati
Zaman kerajaan dahulu kala.
Sosial
Kehidupan masyarkat kerajaan yang memiliki kasta-kasta yang sepertinya menggunakan adat Jawa, di tengah kaum miskin dan gelandangan yang penuh dengan kemiskinan.
“...saya perintahkan kasta-kasta untuk dihapuskan” seru Hamlet.
1.1.6 Tema
Mengetahui bagaimana gambaran kehidupan nanti walaupun hanya fiksi belaka. Mendapat pelajaran tentang kehidupan dan derajat manusia.
Merenungi kehidupan kita di dunia ini serta meyakinkan bahwa semua orang sama di dunia ini.
Menyadarkan manusia bagaimana kehidupan ini seharusnya berlangsung. Baik dari segi sosial dan religius.
1.1.7 Tipe
Tipe cerpen ini merupakan cerpen sastra. Bahasa dalam cerpen ini mudah dimengerti namun ceritanya absurd. Nilai sastra yang terkandung dalam cerpen ini begitu kental. Keseluruhan teks cerpen ini sangat menarik dan sangat terasa kesastraannya.
1.1.8 Nilai
Sastra
Nilai sastra yang terkandung dalam cerpen ini begitu kental. Apalagi kita bersama mengetahui Danarto merupakan sastrawan yang sangat kental dengan suasan mistik dan sufistik. Atmosfer ceritanya berada posisi antara dunia nyata dan dunia tidak nyata, antara yang abstrak dan yang konkret, antara realitas dan khayal. Danartopun menganut paham sufistik religius maka itu Danarto memasukan itu dalam cerpennya ini. Dia pun kental dengan unsur daerahnya yaitu jawa.
Bahasanya enak sekali untuk diikuti. Akan tetapi memang agak susah untuk meruntutnya satu persatu karena dia menganut paham absurdisme dalam sastranya sehingga membutuhkan pembacaan dan pemahaman yang lebih untuk dapat mencerna cerpennya.
Kesopanan
Bahasa dalam cerpennya kali ini cenderung sopan karena menggunakan banyak kata saudara yang berarti menghormati yang diajak bicara. Karena diapun seorang religius maka itu tidak lepas dalam karyanya kali ini.
1.1.9 Fungsi
Fungsi Penyadaran
1. Orangtua harus berkata-kata halus kepada anak-anaknya.
2. Sebagai seorang sahabat kita harus sesalu ada di sisi teman dalam keadaan apapun
3. Keadilan itu jauh lebih penting dari pada kasta
Fungsi rekreatif
1. Penulis menyajikan sesuatu hal yang berbeda dalam penyajian tulisannya yang memberikan kesan lucu sehingga pembaca merasa terhibur saat membacanya.
Fungsi Informasi
2. Darah yang keluar dari tubuh terus-menerus akan meneyebabkan kematian
3. Pada saat meninggal roh akan keluar dari tubuh kita
4. Roh tidak bisa lagi berkomunikasi seperti biasa dengan manusia yang masih hidup
1.1.10 Pengalaman
Pengalaman Estetis
Cerpen ini sangat memikat karena kental sekali dengan suasana mistik dan sufistik di dalamnya.
Pengalaman Humanistik
Cerpen ini menggambarkan kondisi kemanusiaan yang mungkin masih terjadi di beberapa daerah. Kehidupan masyarkat kerajaan yang memiliki kasta-kasta di tengah kaum miskin dan gelandangan yang penuh dengan kemiskinan.
“...saya perintahkan kasta-kasta untuk dihapuskan” seru Hamlet
1.1.11 Kesimpulan Akhir
Setelah membaca cerpen karya Danarto ini kami merasa terhibur dengan gaya penceritaanya walaupun ceritanya bersifat absurb sulit dimengerti. Bahasa yang digunakan mudah dimengerti, selain itu novel ini memiliki fungsi penyadaran, fungsi informasi, dan fungsi rekreatif .
Cerpen Danarto ini kental sekali dengan suasana mistik dan sufistik. Dan itulah memang yang menjadi ciri khas dari Danarto. Ceritanya bebas namun tetap mempunyai amanat atau maksud yang hendak disampaikannya.
Danarto mencoba memakai tokoh yang berasal dari peradaban barat tapi menggunakan adat dan latar belakang jawa. Cerpen ini memiliki ciri unik dalam penyampaiannya, dimana si pengarang bagaikan seorang tokoh dan hidup dalam karangan itu. Si pengarang terlibat langsung dan berdialog dengan para tokoh lainnya.
2.1 Simpulan
Ziarah, merupakan sebuah novel yang isi ceritanya sangat menarik, sentuhan filsafat pengarang benar-benar tersaji dalam novel ini.Tak kurang dalam setiap bagian novel terdapat kalimat-kalimat yang merupakan ilmu filsafat. Gaya humor pengarang juga samar-samar, pembaca harus benar-benar mengerti maksud pengarang dulu sebelum dibuat tertawa membayangkan bahwa itu sangat lucu. Dalam menghadirkan sebuah masalah, pengarang tidak sungkan untuk mendramatisir, selain itu endingnya juga sangat mengagumkan.
Abracadabra, cerpen karya Danarto yang membuat pembaca merasa terhibur dengan gaya penceritaanya, walaupun bahasa yang digunakan mudah dimengerti namun ceritanya bersifat absurb sehingga menjadi sulit dimengerti. Ceritanya bebas namun tetap mempunyai amanat atau maksud yang hendak disampaikan. Cerpen ini memiliki ciri unik dalam penyampaiannya, dimana si pengarang bagaikan seorang tokoh dan hidup dalam karangan itu. Si pengarang terlibat langsung dan berdialog dengan para tokoh lainnya.
Kedua karya prosa fiksi tersebut merupakan contoh keragaman dan keunikan yang terdapat dalam karya sastra. Pengarang membuat cerita dengan kemampuan menulisnya yang sangat baik, dengan gaya penulisannya masing-masing, menghasilkan karya-karya yang mengagumkan yang dapat dinikmati oleh semua orang.
1.1.1 Profil Iwan Simatupang
Iwan Simatupang dilahirkan di Siboga 18 Januari 1928, meninggal di Jakarta, 4 Agustus 1970. Nama lengkapnya Iwan Martua Lokot Dongan Simatupang. Mendapat pendidikan HBS di Medan, sekolah dokter di Surabaya (tidak selesai), lalu belajar antropologi dan filsafat di Rijk-Universiteit Leiden, dan Paris. Dikenal sebagai wartawan dan sastrawan. Sebagai penulis, ia sudah memulainya pada tahun 1952 di majalah Siasat dan Mimbar Indonesia. Terkenal karena 2 novelnya Merahnya Merah(1986) dan Ziarah(1970). Ia juga menulis drama, antara lain Cactus dan Kemerdekaan dan Petang di Taman. Dua novelnya yang lain Kering (1972) dan Koong (1975), terbit setelah ia meninggal. Merahnya Merah mendapat Hadiah Nasional 1970, dan Ziarah dalam terjemahan bahasa Inggris mendapaty hadiah roman ASEAN terbaik 1977. (Bahan: Ensiklopedi Indonesia).
1.1.2 Ikhtisar
Di sebuah negeri yang bernama Kotapraja, terdapat seorang pelukis terkenal di seluruh negeri yang dibuat terkapar tidak berdaya alias shock dan trauma setelah ditinggal mati istrinya yang sangat dia cintai, istri yang dia kawini dalam perkawinan secara tiba-tiba. Suatu ketika Pelukis mencoba bunuh diri karena ketenaran karya lukisnya yang memikat semua orang dijagat bumi ini yang mengakibatkan ia memiliki banyak uang dan membuat dia bingung. Karena kebingungannya ini sang Pelukis berniat bunuh diri dari lantai hotel dan ketika terjun dia menimpa seorang gadis cantik. Dan tanpa diduga pula sang pelukis langsung mengadakan hubungan jasmani dengan si gadis diatas jalan raya. Hal ini membuat orang-orang histeris dan akhirnya seorang brigadir polisi membawa mereka ke kantor catatan sipil dan mengawinkan mereka.
Pelukis merasa benar-benar kehilangan terutama saat dia tahu bahwa istrinya mati, Pelukis pun langsung pergi ke kantor sipil guna mengurusi penguburan istrinya tetapi tak ada tanggapan positif dari pengusaha penguburan. Itu terjadi karena Pelukis tak tahu apa-apa tentang istrinya. Yang dia tahu hanyalah kecintaannya pada istrinya. Sehingga mayat istrinya terkatung-katung karena tak memiliki surat penguburan yang syah. Pelukis pun menghilang ketika dicari walikota (diangkat menjadi walikota setelah walikota pertama gantung diri karena tak bisa memecahkan masalah mengundang Pelukis saat akan ada kunjungan tamu asing) yang ikut menghadiri penguburan Istri pelukis.
Sampai akhirnya pengusaha penguburan itu menyesali perbuatannya dan dengan keputusan Walikota akhirnya mayat Istri pelukis dikuburkan. Sampai penguburan usai, sang pelukis tak kelihatan. Saat kembali ke gubuknya, dia melihat wanita tua kecil yang ternyata adalah ibu kandung dari istrinya. Bercerita panjang tentang masa lalunya yang suram dan sampai saat terakhir dia bertatapan dengan anaknya yang justru membuat dilema bagi si anak. Dan sesaat kemudian Pelukis memandangi keadaan sekitar yang penuh karangan bunga, membuang bunga-bunga tersebut ke laut kemudian membakar gubuknya sampai habis. Beberapa bunga yang masih tersisa ia bawa ke kuburan istrinya. Ia titipkan karangan bunga pada centeng perkuburan. Ziarah tanpa melihat makam istrinya.
Setelah itu hidup Pelukis semakin tak tentu arah. Ia seolah tak pernah percaya bahwa istrinya telah mati. Pagi harinya hanya digunakan untuk menunggu istrinya ditikungan entah tikungan mana dan malam harinya dituangkan arak keperutnya, memanggil Tuhannya, meneriakkan nama istrinya, menangis dan kemudian tertawa keras-keras.
Hingga akhirnya datang Opseter pekuburan yang meminta dia mengapur tembok perkuburan Kotapraja yang sebelumnya telah berbekas pamplet-pamplet polisi bahwa dia dicari.
Pelukis menerima tawaran itu dan esoknya ia mulai bekerja mengapur tembok perkuburan Kotapraja itu 5 jam berturut-turut tiap harinya, sedangkan Opseter perkuburan mengintip dari rumah dinasnya. Pekerjaan baru Pelukis ini membawa perubahan tingkah laku pelukis sehingga membuat seluruh negeri geger. Hingga Walikota akan memberhentikan Opseter perkuburan. Tetapi ketika mengantar surat pemberhentian kerja itu, Walikota malah mati sendiri karena kata-kata opseter tentang proporsi. Sebelumnya juga pernah terjadi kekacauan di negeri karena Opseter pekuburan memakai rasionalisme dalam kerjanya dan hanya memberi instruksi kerja pada selembar kertas pada pegawainya.
Setelah beberapa hari Pelukis mengapur tembok perkuburan, pada suatu hari dia bergegas pulang sebelum 5 jam berturut-turut. Opseter perkuburan heran kemudian mendatanginya dan ternyata Pelukis ingin berhenti bekerja. Opseter kebingungan tetapi Pelukis menjelaskan bahwa dia tahu maksud opseter memperkerjakannya. Bahwa selain untuk kepentingan opseter sendiri, Opseter ingin Pelukis menziarahi istrinya yang sudah tiada itu. Keesokan harinya Opseter ditemukan gantung diri. Pekuburan geger, tetapi hanya sedikit sekali empati dari pegawai-pegawai pekuburan. Penguburan Opseter berlangsung cepat. Setelah penguburan, Pelukis bertemu Maha guru dari Opseter yang kemudian menceritakan riwayat Opseter.
Pada akhirnya Pelukis pergi ke balai kota untuk melamar menjadi opseter pekuburan agar ia dapat terus-menerus berziarah pada mayat-mayat manusia terutama pada mayat istrinya.
1.1.3 Alur
Alur dalam novel ini sedikit membingungkan pembaca, karena pengarang menggunakan alur “Flash Back”.
Diawal cerita, diceritakan sang pelukis begitu kehilangan setelah ditinggal mati istrinya, tetapi dibagian belakang malah pembaca diajak untuk mengikuti kisah pertemuan Pelukis dengan Istri, kehidupan mereka yang mengundang banyak pesona, dan saat-saat terakhir istrinya mati. Bukan hanya Pelukis dan Istri saja tetapi pengarang juga mengajak pembaca untuk mengikuti kisah balik kehidupan Opseter sebelum menjadi opseter.
1. Traumanya seorang pelukis terkenal di sebuah negara bernama Kotapraja karena kematian istrinya.
2. Kehidupan pelukis semakin tak tentu arah.
3. Pagi harinya hanya digunakan untuk menunggu istrinya di tikungan entah tikungan mana.
4. Malam harinya dituangkan arak keperutnya, memanggil Tuhannya, meneriakkan nama istrinya keras-keras, menangis keras-keras untuk pada akhirnya tertawa keras-keras.
5. Bertemunya Pelukis dengan Opseter perkuburan kotapraja.
6. Dimintanya Pelukis mengapur tembok perkuburan Kotapraja oleh sang Opseter.
7. Diterimanya permintaan Opseter oleh Pelukis.
8. Bekerjanya Pelukis mengapur tembok perkuburan Kotapraja itu 5 jam berturut-turut tiap harinya
9. Mengintipnya Opseter perkuburan dari rumah dinasnya ketika Pelukis bekerja.
10. Pekerjaan baru pelukis ini membawa perubahan tingkah laku Pelukis sehingga membuat seluruh negeri geger.
11. Kedatangan Walikota ke perkuburan Kotapraja untuk memberhentikan Opseter.
12. Meninggalnya Walikota karena kata-kata Opseter tentang proporsi.
13. Bergegasnya Pelukis pulang sebelum bekerja 5 jam berturut-turut.
14. Terjadinya percakapan yang berat antara Opseter dan Pelukis.
15. Ditemukannya Opseter meninggal karena gantung diri.
16. Penguburan Opseter berlangsung cepat.
17. Bertemunya Pelukis dengan Maha guru dari Opseter.
18. Diceritakannya riwayat Opseter kepada Pelukis.
19. Perginya Pelukis ke balai kota untuk melamar menjadi Opseter Pekuburan.
1.1.4 Tokoh/Pelaku
Pelukis : Pelukis adalah tokoh kehidupan, manusia bebas, manusia yang selalu mencari rasa dari alam semesta.
Opseter : Opseter perkuburan terlanjur memunculkan citra tokoh kematian, tragis, filsafat atau ‘kursus dari mati’, rasionalisasi, dan segala yang berkarakter kompleks dan rumit. la tergolong ‘orang yang lebih banyak termenung dari pada hidup’
Istri Pelukis : Seorang istri yang baik, yang mau menerima suaminya, dengan apa adanya.
Maha guru : Seorang kakek bertubuh kurus yang ternyata seorang maha guru Opseter.
Ayah Opseter : Seorang ayah sekaligus hartawan terkaya di seluruh negeri yang sangat sayang dan peduli kepada anaknya dan ingin anaknya mewarisi semua harta kekayaannya.
Walikota : Tokoh yang pendendam dan tidak menyukai warga kotanya, ia menjadi walikota karena ingin menuntaskan manusia-manusi kerdil dekil, yang selama ini tak sedikit pun mendapat penghargaan.
Wakil Walikota : Seorang wakil walikota yang selalu ngin memperoleh pujian dan ingin naik jabatan, ia tidak dapat mengucapkan kata yang terdiri dari dua konsonan sekaligus.
Orang Buta professional : Seorang biasa yang berpura-pura buta karena ingin menjadi orang buta profesional.
Kepala Negara : Seorang pemimpin yang bijaksana dan berwawasan filsafat.
Perdana Menteri : Tidak suka terhadap segala sesuatu yang berbau filsafat, dan ingin naik jabatan.
Nona-nona tua : Perawan-perawan gaek yang selalu ingin mengecap kenikmatan dunia, memiliki sikap yang hormat dan sopan sekali. Mereka senang sekali memandang orang lain dengan tatapan yang tajam.
Brigadier polisi : Bersifat baik hati dan pengertian, tidak mengambil keputusan semata-mata karena hukum dan Undang-undang, melainkan memikirkan sisi kemanusiaannya.
Kepala dinas pekerjaan umum : Tokoh yang hanya melakukan tugas yang sudah seharusnya ia lakukan karena tidak ingin dipecat.
Centeng perkuburan : Tokoh yang bertugas berkeliling dan menjaga pekuburan Kotapraja di malam hari.
Mandor dan pegawai pekuburan : Tokoh-tokoh yang anya melakukan tugas yang sudah seharusnya mereka lakukan, dengan harapan mendapatkan gaji dan juga tambahan dari para kerabat mayat yang mereka kubur.
1.1.5 Latar
Latar Fisik/Tempat
Di tikungan
”….di salah satu tikungan…."(Simatupang, 2001:1)
Rumah kecil
”…ke satu kamar kecil, di satu rumah kecil…."(Simatupang, 2001:1)
Di kaki lima
”…langkah-langkahnya di kaki lima itu,…"(Simatupang, 2001:6)
Di kedai arak
”…dia lari sekencang-kencangnya ke kedai arak… (Simatupang, 2001:2)
Di perkuburan
”..suasana pekuburan di tengah hari…(Simatupang, 2001:10)
Di rumah dinas Opseter
” ..dari celah-celah pintu dan jendela rumah dinasnya di pekuburan itu…(Simatupang, 2001:11)
Kantor Dinas Walikota
”..sidang darurat badan pekerja harian…(Simatupang, 2001:12)
Di alun-alun kota
"orang-orang di alun-alun ikut berteriak"(Simatupang, 2001:19)
Di Istana Negara
"…kabinet kepada parlemen…"(Simatupang, 2001:35)
Di lintasan lari
”…bertulisan besar-besar: FINISH.. (Simatupang, 2001:55)
Di hotel
”..kamarnya di tingkat empat hotel itu.(Simatupang, 2001:73)
Di aspal jalan raya
”..yang sedang asyik diatas aspal panas itu. (Simatupang, 2001:73)
Di kantor catatan sipil
”..pidato singkat penjabat catatan sipil…(Simatupang, 2001:74)
Di gubuk tepi pantai
”..ke gubuk yang masih utuh di pantai. (Simatupang, 2001:89)
Perusahaan Penguburan Swasta
"…adalah salah satu perusahaan penguburan swasta. (Simatupang, 2001:105)
Tembok luar perkuburan
”Dia melompat turun dari tembok. (Simatupang, 2001:126)
Balai kota
"Ke balai kota. (Simatupang, 2001:140)
Waktu
Pagi hari
”… di satu pagi cerah…(Simatupang, 2001:7)
Tengah hari
"Persis tengah hari, mereka berpisahan. (Simatupang, 2001:10)
Sore hari/senja
”Menjelang benamnya matahari,dia…(Simatupang, 2001:11)
Malam hari
"…begitu malam jatuh, perutnya…(Simatupang, 2001:1)
Suasana
Gembira
”..menggegar suatu tawa gempita.. (Simatupang, 2001:15)
Sunyi
”Sunyi senyap di pekuburan itu." (Simatupang, 2001:133)
Takut
”..bukan sorak sorai! tapi teriakan-teriakan takut…(Simatupang, 2001:55)
Ramai
”..ke tengah orang ramai itu…(Simatupang, 2001:55)
Panik
”Hadirin geger." (Simatupang, 2001:55)
Kacau
"Banyak pegawai dan buruh itu lari lintang pukang" (Simatupang, 2001:52)
Gelisah
"Dia mulai gelisah" (Simatupang, 2001:89)
Hening
”Sesudah itu hening, sehening-heningnya"(Simatupang, 2001:3)
Sedih
"Dia tersedu-sedu…"(Simatupang, 2001:122)
1.1.6 Tema
Memberitahukan tentang kehidupan dan realitas dunia yang tidak memiliki dalamnya sebuah kepastian, selalu terjadi sebuah peristiwa kematian.
Sesungguhnya manusia dapat menggenggam kebebasan dalam kedua tangannya sendiri, dan membentuk kebebasan yang dimilikinya menurut kehendaknya sendiri.
Manusia dihadapkan pada sebuah kematian, dihadapkan pada batas akhir hidup, suka atau tidak suka, senang atau tidak senang harus dijalani, sebagaimana kelahirannya sendiri.
1.1.7 Tipe
Novel Ziarah karya Iwan Simatupang ini merupakan tipe novel sastra karena pengarang banyak menggunakan ungkapan-ungkapan ataupun konotasi,dan majas-majas terutama majas personifikasi serta terdapat juga istilah-istilah berbau filsafat yang diolah menjadi kesatuan kalimat yang benar-benar membawa pembaca ke arah pemikiran-pemikiran logis dan membenamkan pembaca dalam novel yang memiliki keindahan ilmu filsafat dari pengarang sendiri.
1.1.8 Nilai
Sastra karena penuh dengan ungkapan dan majas-majas.
Ungkapan-ungkapan ataupun konotasi:
o Pada kedua matanya yang redup, zenith bertemu nadir. (Simatupang, 2001:26)
o Hanya untuk mempersaksikan sepasang merpati yang sedang asyik di atas aspal panas itu. (Simatupang, 2001:73)
o Yang mulia ini bersama staf ahli-ahlinya juga cuma dapat garuk garuk kepala saja.( Simatupang, 2001:35)
o Fraksi-fraksi pro dan kontra sama-sama tarik urat lehernya. (Simatupang, 2001:35)
o ..seolah udara kutub menghembus masuk ke dalam tubuhnya melalui rongga mulutnya.( Simatupang, 2001:46)
Majas Personifikasi
o Rasa riang mendaki dalam dirinya.( Simatupang, 2001:2)
o Dia, Opseter berpikiran setan…( Simatupang, 2001:9)
o …praktek-praktek menjilat atasannya…( Simatupang, 2001:20)
o …mereke terbang ke pintu gerbang.( Simatupang, 2001:28)
Majas Hiperbola
o Tuan adalah nabi seni lukis masa datang. (Simatupang, 2001:69)
Filsafat karena terdapat beberapa istilah filsafat di dalamnya.
o …kebenaran dari jenis subtil, yakni: yang memperhitungkan apa yang disebut nuans. Ya! nuanslah yang terlalu sedikit sekali diperkirakan dalam undang-undang dasar tiap-tiap Negara.Dan kini, demi nuans itu, dia harus membangkang. (Simatupang, 2001:17)
o Yes, truly; for, look you, the sins of the father are to be laid upon the children; therefore, I promise ye, I fear you. I was always plain with you, and so now I speak my agitation of the matter; therefore be of good cheer, for truly I think you are damn’d. The is but one hope in it that can do you any good; and that is but a kind of bastard hope neither. (Simatupang, 2001:38)
1.1.9 Fungsi
Fungsi Rekreatif
Membawa pembaca ke dalam kehidupan tokoh-tokohnya yang bersifat sangat individualistis. Pembaca menjadi tahu bagaimana rasanya menjadi tokoh-tokoh tersebut dan yang masing-masing memiliki keistimewaannya sendiri.
Fungsi Informasi
Manusia yang berhasil dalam kehidupan adalah manusia yang mampu bertransendensi, yang mampu mengatasi badan bukan sebagai tolak ukur tujuan hidupnya, tetapi ‘demi kelengkapan dan kesempurnaan’ hidup itulah eksistensi manusia terbentuk. Jadi, kematian pada dasarnya merupakan kesempurnaan eksistensi sebagai manusia.
Fungsi Penyadaran
Kesadaran manusia tentang kematian masih berupa kecemasan dan ketakutan, dengan novel ini pembaca diberikan penyadaran bahwa sesungguhnya kesadaran akan kematian membuat umat manusia dan individu-individu menjadi matang secara spiritual (spiritual-maturity). Sehingga mereka dapat lebih mengenal dan menghargai hidup.
1.1.10 Pengalaman
Pengalaman Literal Estetis
Bahasa dalam novel ini sangat penuh dengan ungkapan-ungkapan dan majas-majas sehingga menimbulkan keindahan bahasa. Selain itu, banyak pula terdapat istilah-istilah filsafat di dalamnya sehingga semakin menambah kememikatan terhadap novel Ziarah ini.
1.1.11 Kesimpulan Akhir
Ceritanya sangat menarik, sentuhan filsafat pengarang benar-benar tersaji dalam novel ini. Tak kurang dalam setiap bagian novel terdapat kalimat-kalimat yang merupakan ilmu filsafat. Contoh kalimat itu seperti “Balas dendam memerlukan persiapan, pemikiran, memerlukan system filsafat tersendiri yang merentangkan isi, tujuan, faedah dan dalih balas dendam itu nanti kepada dirinya sendiri, kepada anak cucunya dan apabila masih ada juga umat manusia dan kemanusiaan sesudah kurun sejarah kini-juga kepada umat manusia dan kemanusiaan yang akan datang…( Simatupang, 2001:20)”
Gaya humor pengarang juga samar-samar, pembaca harus benar-benar mengerti maksud pengarang dulu sebelum dibuat tertawa membayangkan bahwa itu sangat lucu. Ada beberapa bagian dalam novel yang bisa dikatakan sebagai penunjuk bahwa pengarang memiliki daya humor yang cukup tinggi. Seperti saat ketika opseter dan walikota saling melihat bola mata. Dan saling terkejut dan saling berteriak. Tentu saja mengundang tawa bagi pelukis yang menyaksikannya (Simatupang, 2001:14-15). Juga saat menceritakan kisah ketenaran pelukis, yang justru membuat dia hampir bunuh diri sebelum akhirnya mengawini seorang gadis ( Simatupang, 2001:68-74).
Dalam menghadirkan sebuah masalah, pengarang tidak sungkan untuk mendramatisir, selain itu endingnya juga sangat mengaggumkan. Karena dengan penambahan cerita yang didramatisir itu justru semakin membuat semangat pembaca.
1.2 Apresiasi Cerpen Abracadabra Karya Danarto
1.1.1 Profil
Muncul secara Fenomenal, Danarto (Sragen, Jawa Tengah. 27 Juni 1940) mengejutkan publik sastra dengan cerpen-cerpen yang sangat berbeda dari pola-pola cerpen Idrus, Asrul Sani, Budi Darma, atau Nh. Dini. Danarto menerabas pola baku penulisan cerpen yang sudah dikenal baik, baik mengenai tokoh, setting, peristiwa maupun logika cerita. Atmosfer cerita-cerita Danarto berada pada posisi diantara dunia nyata dan dunia tidak nyata, antara yang abstrak dan yang konkret, antara realitas dan khayal. Ia membebaskan diri dari konvensi dan memasuki sebuah pola inkonvensional yang mencirikan sastra sufistik yang ditulis secara improvisasi.
Ia pernah kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (1958-1961) pernah mengajar di LPKJ sejak (1973-), aktif di Sanggar Bambu sejak (1959-), redaktur majalah Zaman (1979-1985). Tahun 1976 mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, USA.
Ia pernah mendapat beberapa penghargaan, diantaranya, kumpulan cerpennya Adam Ma’rifat mendapat hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta (1982) dan hadiah Yayasan Buku Utrama Departemen P dan K (1982), dan Berhala meraih Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P dan K (1987), tahun 1988 ia memenangkan hadiah Sastra ASEAN.
1.1.2 Ikhtisar
Pada awal diceritakan bahwa kedua tokoh yaitu Hamlet dan Horatio sedang berbincang-bincang sambil melihat-lihat sesuatu di sebuah bazar di sebuah negeri yang bernama Tawangmangu. Mereka membincangkan perihal kasta; dimana Hamlet memerintahkan agar kasta dihapuskan di negaranya agartidak ada lagi ketimpangan berbahasa antara yang derajatnya tinggi dan yang derajatnya rendah; dan juga membicarakan kematian Hamlet yang tidak lama lagi akan ditempuhnya.
Mereka berdua membicarakan tentang kematian apa yang akan terjadi setelah kematian dan bagaimana kematian itu akan menjemput mereka. Akan tetapi disini mereka membicarakan Hamlet yang taklama akan meninggal.
Setelah berbincang, maka Hamlet pun berpamitan. Bukan berpamitan untuk pulang tapi untuk meninggal dunia. Disini rupanya Hamlet memiliki segudang pertanyaan tentang kematiannya itu, sampai-sampai dia berulang kali tidak jadi mati dan ketika akan berpamitan dia terus menerus mencerca Horati dengan permintaan dan pertanyaan.
Setelah Hamlet meninggal muncullah seseorang yang entah siapa menurut Hamlet mendatangi dia di rumahnya sendiri yang padahal sekarang dia sudah berada di alam roh. Mereka pun sama berbincang mengenai kematiannya dan bagaimana rasanya Mati. Setelah dicari tahu ternyata sosok tadi adalah si pengarang atau narator ceritanya.
Lalu Hamlet menceritakan pengalamannya berpetualang di dunia akhirat atau roh. Setelah sekian lama dia bercerita mengenaipengalamannya rupanya roh Hamlet menghilang. Dan Narator atau pengarang berusaha mencari-cari dia.
Akhirnya Hamlet muncul tapi disebuah tempat yang aneh dan tidak diketahuinya. Tempat itu adalah sebuah lambung perut dan dimana lambung itu bisa berubah-ubah warnanya. Setelah Hamlet sadar dilihatnya ada empat sosok orang. Dan ternyata mereka pun Hamlet hamlet sama dengan dia. Hamlet itu ada yang dinamakan Hamlet Kekekalan, kebaikan, kejahatan, dan Hamlet Manasuka.
Hamlet-hamlet yang lain mencoba membujuknya agar mengikuti salah satu dari mereka. Tapi Hamlet tidak mau. Hamlet terus saja berontak dan berusaha lepas dari mereka. Hamlet berusaha meminta pertolongan dan terus memanggil dan menriakkan Horatio agar menolongnya.
Tiba-tiba Hamlet menghilang dan keempat Hamlet yang lain kebingungan mencarai dimana dia. Dan ternyata akhirnya terlihat sadarkan diri di rumahsakit ditemani Horatio yang sejak tadi menunggunya cemas. Hamlet marah kepada Horatio yang telah membuatnya seperti itu, mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan dan malah menghidupkan dia kembali. Padahal Hamlet sudah bahagia bisa mati. Dan ternyata Hamlet mengalami halusinasi dan mati suri. Dan Horatio lah penyebabnya. Abracadabra!!!!
1.1.3 Alur
1. Hamlet dan Horatio sedang berbincang-bincang sambil melihat-lihat sesuatu di sebuah bazar di sebuah negeri yang bernama Tawangmangu.
2. Diperbincangkannya Hamlet yang tak lama akan meninggal.
3. Berpamitannya Hamlet untuk meninggal dunia pada Horatio.
4. Munculnya seseorang yang entah siapa menurut Hamlet mendatangi dia di rumahnya sendiri padahal dia sudah berada di alam roh.
5. Ternyata sosok tersebut adalah si pengarang atau narator ceritanya.
6. Perbincangan mereka pun mengenai kematian dan bagaimana rasanya mati.
7. Lalu Hamlet menceritakan pengalamannya berpetualang di dunia akhirat atau roh.
8. Menghilangnya Hamlet dari hadapan Narator.
9. Akhirnya Hamlet muncul tapi disebuah tempat yang aneh dan tidak diketahuinya.
10. Tempat itu adalah sebuah lambung perut dan dimana lambung itu bisa berubah-ubah warnanya.
11. Dilihatnya ada empat sosok orang yang sama dengan Hamlet.
12. Hamlet itu ada yang dinamakan Hamlet Kekekalan, kebaikan, kejahatan, dan Hamlet Manasuka.
13. Hamlet-hamlet yang lain mencoba membujuknya agar mengikuti salah satu dari mereka.
14. Hamlet terus saja berontak dan berusaha lepas dari mereka.
15. Tiba-tiba Hamlet menghilang dan keempat Hamlet yang lain kebingungan mencarai dimana dia.
16. Akhirnya hamlet terlihat sadarkan diri di Rumah Sakit ditemani Horatio yang sejak tadi menunggunya cemas.
1.1.4 Tokoh/Pelaku
Hamlet : Ditokohkan seorang pangeran yang bijaksana, arif, tapi kurang pandai dan sedikit agak polos.
Horatio : Ditokohkan seorang asisten atau pembantu raja yang patuh dan hormat, pandai, serta setia dan mengasihani.
Narator atau Pengarang : Ditokohkan seseorang yang gaib namun memiliki wujud ketika di alam roh, serba tahu dan aneh.
1.1.5 Latar
Latar Fisik/Tempat
Sebuah bazar di Tawangmangu dengan keadaan Ramai dekat dengan patung air.
“Di Bazar Teheran orang berdatangan menikmati permadani.....”
“mereka duduk di bawah patung air.....”
Alam Roh atau Baka
“Demikianlah, akan tetapi yang menulis karangan ini akan melanjutkan cerita mengenai Hamlet di Alam Baka
Rumah Sakit
“...Hamlet meronta-ronta di tempat tidur rumah sakit....”
Waktu
Siang Hari
Kehidupan setelah mati
Zaman kerajaan dahulu kala.
Sosial
Kehidupan masyarkat kerajaan yang memiliki kasta-kasta yang sepertinya menggunakan adat Jawa, di tengah kaum miskin dan gelandangan yang penuh dengan kemiskinan.
“...saya perintahkan kasta-kasta untuk dihapuskan” seru Hamlet.
1.1.6 Tema
Mengetahui bagaimana gambaran kehidupan nanti walaupun hanya fiksi belaka. Mendapat pelajaran tentang kehidupan dan derajat manusia.
Merenungi kehidupan kita di dunia ini serta meyakinkan bahwa semua orang sama di dunia ini.
Menyadarkan manusia bagaimana kehidupan ini seharusnya berlangsung. Baik dari segi sosial dan religius.
1.1.7 Tipe
Tipe cerpen ini merupakan cerpen sastra. Bahasa dalam cerpen ini mudah dimengerti namun ceritanya absurd. Nilai sastra yang terkandung dalam cerpen ini begitu kental. Keseluruhan teks cerpen ini sangat menarik dan sangat terasa kesastraannya.
1.1.8 Nilai
Sastra
Nilai sastra yang terkandung dalam cerpen ini begitu kental. Apalagi kita bersama mengetahui Danarto merupakan sastrawan yang sangat kental dengan suasan mistik dan sufistik. Atmosfer ceritanya berada posisi antara dunia nyata dan dunia tidak nyata, antara yang abstrak dan yang konkret, antara realitas dan khayal. Danartopun menganut paham sufistik religius maka itu Danarto memasukan itu dalam cerpennya ini. Dia pun kental dengan unsur daerahnya yaitu jawa.
Bahasanya enak sekali untuk diikuti. Akan tetapi memang agak susah untuk meruntutnya satu persatu karena dia menganut paham absurdisme dalam sastranya sehingga membutuhkan pembacaan dan pemahaman yang lebih untuk dapat mencerna cerpennya.
Kesopanan
Bahasa dalam cerpennya kali ini cenderung sopan karena menggunakan banyak kata saudara yang berarti menghormati yang diajak bicara. Karena diapun seorang religius maka itu tidak lepas dalam karyanya kali ini.
1.1.9 Fungsi
Fungsi Penyadaran
1. Orangtua harus berkata-kata halus kepada anak-anaknya.
2. Sebagai seorang sahabat kita harus sesalu ada di sisi teman dalam keadaan apapun
3. Keadilan itu jauh lebih penting dari pada kasta
Fungsi rekreatif
1. Penulis menyajikan sesuatu hal yang berbeda dalam penyajian tulisannya yang memberikan kesan lucu sehingga pembaca merasa terhibur saat membacanya.
Fungsi Informasi
2. Darah yang keluar dari tubuh terus-menerus akan meneyebabkan kematian
3. Pada saat meninggal roh akan keluar dari tubuh kita
4. Roh tidak bisa lagi berkomunikasi seperti biasa dengan manusia yang masih hidup
1.1.10 Pengalaman
Pengalaman Estetis
Cerpen ini sangat memikat karena kental sekali dengan suasana mistik dan sufistik di dalamnya.
Pengalaman Humanistik
Cerpen ini menggambarkan kondisi kemanusiaan yang mungkin masih terjadi di beberapa daerah. Kehidupan masyarkat kerajaan yang memiliki kasta-kasta di tengah kaum miskin dan gelandangan yang penuh dengan kemiskinan.
“...saya perintahkan kasta-kasta untuk dihapuskan” seru Hamlet
1.1.11 Kesimpulan Akhir
Setelah membaca cerpen karya Danarto ini kami merasa terhibur dengan gaya penceritaanya walaupun ceritanya bersifat absurb sulit dimengerti. Bahasa yang digunakan mudah dimengerti, selain itu novel ini memiliki fungsi penyadaran, fungsi informasi, dan fungsi rekreatif .
Cerpen Danarto ini kental sekali dengan suasana mistik dan sufistik. Dan itulah memang yang menjadi ciri khas dari Danarto. Ceritanya bebas namun tetap mempunyai amanat atau maksud yang hendak disampaikannya.
Danarto mencoba memakai tokoh yang berasal dari peradaban barat tapi menggunakan adat dan latar belakang jawa. Cerpen ini memiliki ciri unik dalam penyampaiannya, dimana si pengarang bagaikan seorang tokoh dan hidup dalam karangan itu. Si pengarang terlibat langsung dan berdialog dengan para tokoh lainnya.
2.1 Simpulan
Ziarah, merupakan sebuah novel yang isi ceritanya sangat menarik, sentuhan filsafat pengarang benar-benar tersaji dalam novel ini.Tak kurang dalam setiap bagian novel terdapat kalimat-kalimat yang merupakan ilmu filsafat. Gaya humor pengarang juga samar-samar, pembaca harus benar-benar mengerti maksud pengarang dulu sebelum dibuat tertawa membayangkan bahwa itu sangat lucu. Dalam menghadirkan sebuah masalah, pengarang tidak sungkan untuk mendramatisir, selain itu endingnya juga sangat mengagumkan.
Abracadabra, cerpen karya Danarto yang membuat pembaca merasa terhibur dengan gaya penceritaanya, walaupun bahasa yang digunakan mudah dimengerti namun ceritanya bersifat absurb sehingga menjadi sulit dimengerti. Ceritanya bebas namun tetap mempunyai amanat atau maksud yang hendak disampaikan. Cerpen ini memiliki ciri unik dalam penyampaiannya, dimana si pengarang bagaikan seorang tokoh dan hidup dalam karangan itu. Si pengarang terlibat langsung dan berdialog dengan para tokoh lainnya.
Kedua karya prosa fiksi tersebut merupakan contoh keragaman dan keunikan yang terdapat dalam karya sastra. Pengarang membuat cerita dengan kemampuan menulisnya yang sangat baik, dengan gaya penulisannya masing-masing, menghasilkan karya-karya yang mengagumkan yang dapat dinikmati oleh semua orang.
Analisis Drama Nyonya-Nyonya karya Wisran Hadi
1.1 Profil Wisran Hadi
Nama : Wisran Hadi
Tempat, tanggal lahir : Lapai, Padang, Sumatera Barat, 27 Juli 1945
Pendidikan : - ASRI Yogyakarta (1969),
- International Writing Program di Iowa
University, USA (1997),
- mengikuti Observasi Teater Modern Amerika
di USA (1978),
- mengikuti Observasi Teater Modern Amerika
dan Jepang (1986)
Prestasi :
o Pemenang Harapan Ketiga Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Gaung (1975),
o Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Ring (1976),
o Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Anggun Nan Tongga (1976),
o Pemenang Lomba Penulisan Nasah Sandiwara DKJ untuk karyanya Cindua Mato (1997),
o Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Malin Kundang (1978).
o Pemenang LombaPenulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Perguruan (1979),
o Pemenang lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Imam Bonjol (1980),
o Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Pewaris (1981),
o Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Penyeberangan (1984),
o Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Senandung Semenanjung (1985),
o Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Gading Cempaka (1998),
o Penghargaan Sastra dari Pusat Bahasa atas karyanya Jalan Lurus (1991),
o Penghargaan sastra SEA Write Award dalam karyanya Empat Sandiwara Orang Melayu (2000).
1.2 Riwayat Hidup Wisran Hadi
Dilahirkan di Lapai, Padang, Sumatera Barat, pada 27 Juli 1945. Nama Hadi merupakan singkatan nama orang tuanya, Haji Darwas Idris. Wisran merupakan anak ketiga dari tiga belas bersaudara. Ia dibesarkan dalam lingkungan pendidikan agama Islam yang taat. Ayahnya, H. Darwas Idris, adalah seorang Imam Besar Masjid Muhammadiyah Padang dan juga seorang ahli tafsir terkemuka di Indonesia.
Masa kecilnya banyak dipengaruhi oleh kesenian Minangkabau tradisional, seperti pertunjukan randai dan cerita rakyat Minangkabau. Dia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di kota Padang . Setelah menyelesaikan sekolah guru agama di Padang, Wisran melanjutkan pendidikannya ke Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta dan tamat tahun 1969.
Dia tidak hanya menggeluti dunia lukis dan sastra, tetapi juga memasuki dunia akting dan aktif di berbagai kegiatan kesenian, baik tingkat daerah maupun nasional. Hobinya sebagai penulis membuahkan hasil sebagai penulis drama terkemuka di Indonesia yang memiliki ciri khas kedaerahan. Naskah-naskah drama yang dihasilkan mampu mengantarkannya sebagai pemenang lomba penulisan. Dia memperoleh penghargaan penulisan naskah sandiwara yang diselenggarakan oleh DKJ pada tahun 1975, 1981, 1984, 1985, dan 1998. Tahun 1991, dia menerima penghargaan sebagai seniman teladan dari Pemda Tk II Padang. Wisran juga pernah memperoleh Penghargaan Sastra dari Pusat Bahasa tahun 1978 atas karyanya yang berjudul Jalan Lurus. Selain menulis naskah drama, dia juga menulis, puisi, cerpen, dan novel. Untuk menyalurkan kreativitas generasi Padang dalam dunia teater, Wisran mendirikan sanggar Teater Bumi pada tahun 1978 di Padang.
Saat ini, Wisran lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menulis setelah pensiun dari dosen tamu Fakultas Sastra Universitas Andalas dan INS Kayu Tanam. Istrinya, Upita Agustina, juga seorang penyair. Mereka dikaruniai lima orang anak. Yang menarik dari karya-karya Wisran adalah adanya upaya untuk menghidupkan kembali tradisi dan mitos lama Minangkabau dan Melayu ke dalam bentuk kekinian. Akan tetapi, tidak tunduk kepada pemikiran masyarakatnya. Wisran, dalam karya-karyanya, berupaya mentransformasikan mitos dan nilai-nilai lama Minangkabau yang ada dalam tradisi dan cerita lama Minangkabau dalam bentuk yang baru.
Namanya terpilih sebagai salah satu seniman yang memenangkan penghargaan dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Penulis prosa berdarah Minang ini adalah salah satu seniman yang konsisten berkarya hingga hari tuanya. Ketika menerima penghargaan tersebut pada Kongres Kebudayaan V beberapa waktu lalu. Penghargaan lain yang pernah diterimanya datang dari Kerajaan Thailand berupa SEA Write Award tahun 2000. Ia menjadi penulis Minang kedua yang mendapatkan hadiah bergengsi itu setelah A.A. Navis pada tahun 1992.
Wisran pernah menulis kumpulan naskah drama berjudul Empat Orang Melayu berisi empat naskah drama Senandung Semenanjung, Dara Jingga, Gading Cempaka”dan Cindua Mato”yang membuatnya mendapat penghargaan SEA Write Award 2000. Novelnya yang pernah dibukukan antara lain berjudul Tamu, Iman, Empat Sandiwara Orang Melayu dan Simpang. Cerpen-cerpennya kerap dipublikasikan di media cetak dan dibukukan penerbit Malaysia berjudul Daun-Daun Mahoni Gugur Lagi.
Dia juga pernah mendapat Hadiah Sastra 1991 dari Pusat Pengembangan Bahasa Depdikbud karena karya buku dramanya Jalan Lurus mendapat Hadiah Sastra 1991 dari Pusat Pengembangan Bahasa Depdikbud dan dijadikan buku drama terbaik pada Pertemuan Sastrawan Nusantara 1997. Karyanya dikenal sangat kritis termasuk dalam menulis tentang permasalahan budaya dalam masyarakatnya. Misalnya pada karya dramanya yang berjudul Cindua Mato yang menggambarkan tentang figur Bundo Kanduang sebagai figur agung masyarakat Minangkabau. Juga karya dramanya yang lain Tuanku Imam Bonjol dengan sisi kepahlawanan dan kelemahannya.
Sebanyak 15 karya drama dipilih sebagai pemenang dalam Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta semenjak 1976 s/d. 1985 dan 1998, 2004. 13 karya dramanya yang lain diterbitkan oleh Proyek Pengadaan Buku-buku Sastra Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI Jakarta. 7 karya dramanya telah difilmkan oleh TVRI Palembang, TVRI Padang dan TVRI Jakarta; Empat lakon Perang Paderi, Kau Tunggu Siapa Nilo, Cindra Mata dan Anggun Nan Tongga.
Alamat
Jalan Gelugur Blok H no. 2
Wisma Indah II – Padang 25142
Telp. 0751 7052174
E-Mail : wisranhadi@yahoo.com
1.3 Karya-karya Wisran hadi
o Dua Buah Segi Tiga (1972),
o Sumur Tua (1972),
o Gaung (1975),
o Putri Cendana (drama anak-anak, 1975),
o Angsa-Angsa Bermahkota (drama anak-anak, 1975),
o Kejaran Bungsa (drama anak-anak, 1975),
o Putri Mawar (drama anak-anak, 1975),
o Saijah dan Adinda (drama remaja, 1975),
o Ehm (1975),
o Memuara ke Telaga (1976),
o Ring (1976),
o Tetangga (1977),
o Sandi Ba Sandi (1977),
o Payung Kuning (1977),
o Simpang (1977),
o Astaga (1977),
o Anggun Nan Tongga (1977),
o Cindua Mato (1977),
o Malin Kundang (1978),
o Malin Deman (1978),
o Perguruan (1978),
o Puti Bungsu (1979),
o Tuanku Yayai (1979),
o Imam Bonjol (1980),
o Terminal (operet, 1980),
o Kemerdekaan (1980),
o Baeram kumpulan sandiwara (Baeram, Nilam Sari, Nilonali, Sutan Pamenan, Sabai, dan Istri Kita,1981),
o Pewaris (1981),
o Nurani (1981),
o Titian (1982),
o Perantau Pulau Puti (1982),
o Nyonya-Nyonya (1982),
o Tuanku Nan Renceh (1982),
o Sabai Nan Aluih (naskah randai, 1982),
o Paimbang Dunia (naskah randai, 1982) ,
o Makan Bajamba (naskah randai, 1983),
o Manjau Ari, (naskah randai, 1984),
o Dara Jingga (1984),
o Penyeberangan (1984),
o Senandung Semenanjung (1985),
o Jalan Lurus (1985),
o Drama Perjuangan (1985),
o Teater Elektronik (1985),
o Kebun Tuan (1985),
o Ibu Suri (1988),
o Matri Lini (1988),
o Salonsong (1988),
o Ceramah Alamiah (1989),
o Mandi Angin (1999),
o Empat Sandiwara Orang Melayu (2000),
o Wayang Padang (2006).
1.4 Sinopsis Drama Nyonya-Nyonya
Seorang Tuan pedagang barang antik sedang berdiri di teras depan rumah seorang Nyonya sambil menggerutu sendiri tentang cuaca, keadaan dirinya, dan tentang perilaku orang-orang terhadap dirinya.
Nyonya tersebut mengomel karena Tuan berdiri di terasnya. Ia khawatir keberadaan Tuan di teras rumahnya akan menimbulkan pandangan negatif dari masyarakat. Ia juga mengusir Tuan agar lekas pergi dari teras rumahnya.
Tuan mengelak kekhawatiran Nyonya dengan mengemukakan banyak alasan. Akhirnya Tuan membeli empat buah marmer tempat dia berdiri agar ia bisa bebas berdiri di sana tanpa didesak-desak untuk pergi oleh Nyonya.
Kemudian Ponakan A—keponakan suami Nyonya—datang menagih uang hasil penjualan tanah pusaka. Tanah pusaka milik keluarga mereka telah diserahkan kepada Datuk, suami Nyonya, untuk dijual, namun uang hasil penjualannya tidak dibagi-bagikan kepada keponkan-keponakannya. Karena itu Ponakan A menuntut bagi hasil.
Ia juga mencurigai Nyonya menggunakan harta pusaka itu untuk membangun rumahnya yang mewah. Namun Nyonya mengelak semua tuduhan itu. Ponakan A juga menuduh bahwa penyakit kanker lidah yang kini diderita Datuknya adalah karena kutukan nenek moyang, karena Datuknya telah berani memakan uang penjualan tanah pusaka. Menurutnya, orang yang memakan harta tanah pusaka dan berlaku tidak adil dalam pembagian warisan pasti akan mendapat penyakit yang aneh-aneh.
Ponakan A tetap bersikukuh bahwa Nyonya menyimpan uang penjualan tanah pusaka itu di rumahnya. Hal itu membuat Nyonya marah. Ponakan A kemudian mengeluarkan pisau dari dalam tasnya dan mengancam Nyonya agar memberikan uang. Nyonya kemudian memberikan uang hasil penjualan empat buah mermernya kepada Ponakan A. Terjadilah rebutan pisau, namun akhirnya Ponakan A dapat merebut pisau itu kembali dari tangan Nyonya dan membawa uangnya pergi.
Nyonya yang tidak berhasil mengejar Ponakan A kembali ke ruang tamu dan terkejut mendapati Tuan sudah duduk enak-enakan duduk di kursi ruang tamunya. Ia marah karena Tuan masuk dan duduk di ruang tamunya tanpa izin. Tuan membela diri dengan berbagai macam alasan. Akhirnya Tuan membeli kursi ruang tamu Nyonya agar Nyonya tidak mendesak-desaknya keluar dari ruang tamu.
Istri Tuan kemudian datang sembari marah-marah. Ia memarahi Tuan yang tak kunjung pulang, apalagi ketika ia mengetahui suaminya itu membeli sebuah kursi bekas dengan harga yang menurutnya sangat mahal. Ia menyesalkan sikap Tuan yang menjual kursi di rumahnya—sedangkan anak-anak mereka di rumah sangat menginginkan untuk memiliki kursi—tapi malah membeli sebuah kursi bekas. Dua pasangan suami istri itu terus bertengkar dan pergi.
Ponakan B dan Ponakan C datang menemui Nyonya. Sama seperti Ponakan A, mereka juga menuntut pembagian uang penjualan tanah pusaka. Mereka juga menuduh Nyonya seperti tuduhan Ponakan A. Mereka mengancam Nyonya dengan surat pengakuan dari Datuk, yang berisi pernyataan bahwa uang pusaka telah diserahkan kepada Nyonya. Tapi Nyonya mengelak, ia bersikukuh bahwa rumahnya adalah hasil kerja kerasnya dan ibunya sendiri.
Nyonya akhirnya memberikan sejumlah uang hasil penjualan kursinya kepada Ponakan B dan Ponakan C. Uang itu segera dibagi jadi dua, tapi bagian Ponakan C lebih besar. Ponakan B tidak terima, ia menuntut pembagian yang rata.
Kemudian Ponakan A datang dengan pisau terhunus. Ponakan A juga menuntut pembagian uang itu. Ia mengancam dengan pisau di tangannya. Ponakan C tidak terima, ia juga mengeluarkan pisau yang lebih besar. Demikian juga dengan Ponakan B, ia juga mengeluarkan piasu yang lebih besar lagi dari pisau Ponakan C.
Nyonya berteriak-teriak, mencegah agar mereka tidak berbunuhan. Ia ketakutan dan keluar. Sepeninggalnya Nyonya, ketiga Ponakan lega dan saling bersalaman. Mereka juga tertawa cekikikan. Ponakan A berkata bahwa dengan uang itu, mereka dapat membayar ongkos rumah sakit Datuknya sehingga mereka tidak lagi dituduh sebagai orang yang tak tahu adat. Mereka kemudian berteriak tentang kesetiaan mereka kepada Datuknya.
Tuan datang dan segera duduk di kursi makan. Nyonya yang datang tak berapa lama kemudian merasa terkejut. Mereka kembali beradu argumen. Akhirnya Tuan membeli kursi makan tersebut. Ia membayar kursi itu separuh harga dan berjanji akan melunasi sisanya besok pagi. Nyonya kemudian menyuruh Tuan keluar tapi Tuan marah karena sebagai pemilik kursi ia tidak mau diusir.
Akhirnya Tuan kemudian keluar juga, tapi ternyata ia lupa membawa tasnya. Ketika berbalik ingin mengambil tas, ia mendengar Nyonya mengucapkan kalimat penyesalan karena Tuan datang terlalu pagi sehingga ia tidak sempat gosok gigi. Tuan pun menggoda Nyonya, Nyonya kelabakan dan berlari ke dalam. Tuan akhirnya keluar sambil bernyanyi-nyanyi senang.
Dari arah lain, ketiga ponakan masuk sambil meratap, menyesali nasib Datuknya yang dapat istri cantik tetapi menyia-nyiakan suami. Tapi karena Nyonya tidak ada di rumah ketiganya kemudian pergi dengan kecewa.
Nyonya sedang berdandan di kamar. Ia duduk di kursi riasnya didiringi sebuah nyanyian dari tape recorder. Tiba-tiba Tuan masuk. Nyonya terkejut sekali dan segera mematikan tape recordernya.
Nyonya memarahi Tuan yang seenaknya memasuki kamarnya. Tuan beralasan bahwa ia ingin melunasi hutangnya. Ia mengeluarkan sejumlah uang tapi Nyonya tak peduli. Tuan kemudian menghitung uang itu sambil duduk di atas tempat tidur. Matanya terpaku pada tubuh Nyonya yang sedang berdandan.
Nyonya menyuruh Tuan keluar tapi Tuan mengelak dengan berbagai alasan. Tuan malah menyuruh Nyonya duduk di sampingnya. Nyonya menolak untuk duduk di samping Tuan. Ia menjual tempat tidur dan kursi riasnya agar Tuan segera angkat kaki dari kamarnya. Tuan mulai menawar harga tempat tidur dan kursi rias. Setelah menyerahkan uang, Tuan tak langsung pergi. Ia mengatakan bahwa kursi rias itu telah menjadi miliknya, maka Nyonya tidak berhak menempati milik orang. Nyonya akhirnya berdiri.
Di luar kamar, ketiga ponakan datang sambil meratap tentang kemalangan Datuknya. Kemudian istri Tuan juga datang dan ketiga ponakan itu pun berhenti meratap.
Di dalam kamar, Tuan segera bangkit dan langsung berjongkok di dekat kaki Nyonya. Tuan mengkhawatirkan lutut Nyonya yang bisa bengkak karena kelamaan berdiri. Namun Nyonya tak peduli, ia tetap berdiri. Tuan mengatakan bahwa lutut Nyonya telah bengkak. Nyonya melihat lututnya tapi tetap masa bodoh.
Nyonya-nyonya di luar itu pun juga melihat lututnya sendiri-sendiri.
Tuan mengatakan bahwa betis Nyonya mulai berdarah dan memegang kaki Nyonya. Nyonya menyuruh Tuan untuk melepaskan tanganya. Namun Tuan tidak mau. Nyonya kemudian menjual tumitnya agar Tuan tidak lagi memegang kakinya. Tuan mulai menawar, tapi Nyonya meminta harganya naik. Dan setiap Nyonya meminta kenaikan harga, pegangan Tuan naik ke atas.
Nyonya kemudian berteriak tertahan, dan nyonya-nyonya yang berada di luar kamar ikut berteriak. Nyonya dan Tuan segera sadar bahwa ada orang lain di teras. Keduanya tersentak dan saling berusaha melarikan diri, tapi tidak tahu mau lari ke mana. Akhirnya, mereka berangkulan dan saling melepaskan lagi, kemudian berangkulan lagi.
Nyonya-nyonya di luar mengintip dan tercengang. Mereka marah dan mengejar Tuan dan Nyonya ke dalam sambil menghunus pisau masing-masing. Istri Tuan kemudian datang tergesa dan ketika melihat Tuan dan Nyonya berpelukan, ia kemudian pingsan.
1.5 Apresiasi Drama Nyonya-Nyonya
Tema
Dalam drama ini tema yang diangkat oleh pengarang adalah menjaga nama baik. Nyonya pada drama ini selalu menghindar terhadap tindakan yang dapat mencemarkan nama baiknya. Dia tidak ingin nama baiknya tercemar karena ada seoranng pria yang masuk ke dalam rumahnya, sedangkan rumahnya kosong tidak ada orang tua ataupun suaminya.
NYONYA
Tuan mengira teras rumahku ini halte bus!? Tak useh ye! Ayo pergi! jangan berdiri di situ! Pergi! namaku tidak boleh cacat di mata umum. Berapa kali harus kukatakan pada Tuan! Namaku, namaku! Apa semua pedagang barang antic selalu tuli!?
Latar
Latar dalam drama ini sangat terlihat sekali. Setiap babak berbeda latar tempatnya dan setiap nama babak mencirikan latar tempat drama ini.
Babak kesatu "Di Teras"
NYONYA (Mematikan Tape Recorder dan datang dengan berang menemui Tuan)
Bagus sekali, Tuan! Bagus. Tenu Tuan sudah menyusun alas an pula untuk dapat berdiri di teras rumahku ini. Hari telah malam, taksi tidak ada yang lewat, ramalan TV meleset dan sebagainya, dan sebagainya! Apa kata orang-orang itu nanti, kalau mereka melihat Tuan terus berdiri di sini. Kalau disangka Tuan sedang bermain drama ya…. Mungkin tidak apa-apa. Tapi, kalau mereka menyangka Tuan sedang mengintai saya yang sedang berdandan di kamar kan susah. Ekor persoalannya, Tuan. Ekornya.
Babak kedua "Di Ruang Tamu"
TUAN DATANG DAN LANGSUNG DUDUK DI KURSI. DIA DUDUK DENGAN SANGAT ENAK. SEMENTARA ITU, NYONYA DATANG TERENGAH-ENGAH. DIA KESAL SEKALI KARENA TIDAK BERHASIL MENGEJAR PONAKAN A. DIA TERKEJUT MELIHAT TUAN SUDAH DUDUK DI RUANG TAMU. LALU, SEMUA KEKESALANNYA ITU DILAMPIASKANNYA PADA TUAN.
Babak ketiga "Di Ruang Makan"
TUAN DATANG DAN SEGERA DUDUK DENGAN ENAKNYA DI ATAS KURSI MAKAN, DIIRINGI LAGU YANG LUCU DARI TAPE RECORDER. NYONYA DATANG DAN TERKEJUT MELIHAT TUAN TELAH DUDUK DI RUANG MAKAN.
Babak keempat, “Di Dalam Kamar”
NYONYA BERDANDAN DI DALAM KAMAR, DIIRINGI SEBUAH NYANYIAN DARI TAPE RECORDER. TIBA-TIBA TUAN MASUK. NYONYA TERKEJUT SEKALI DAN SEGERA MEMATIKAN TAPE RECORDERNYA.
Latar sosial dan budaya dalam drama ini adalah budaya Minang yang cukup kental, terlihat dari dialog antartokoh.
NYONYA
Kenapa datang tergesa? Kamu dari rumah sakit? Apa Datuk (kakek) mu memerlukan sesuatu? Apa dokter mengatakan Datukmu akan dioperasi? Katakan cepat. Saya cemas sekali dengan kedatanganmu yang tiba-tiba begini.
dan
BERTIGA (Berteriak lebih keras setelah menyimpan pisau kedalam tas)
Kamilah pewaris adat negeri ini! Tak lekang dek panas! Tak lapuk dek hujan! (Lalu keluar sambil bergoyang pinggul) Ekornya…. Ekornya…. Ekornya…..
Alur
Drama Nyonya-Nyonya karya Wisran Hadi ini hanya memiliki satu alur saja, yaitu alur maju. Drama ini terdiri dri dari empat babak. Dari setiap babak ke babak berikutnya merupakan kelanjutan cerita dari babak sebelumnya. Kejadian yang terjadi pada babak kedua juga sebagai sebab-akibat dari kejadian di babak pertama, begitu seterusnya.
Babak kesatu, “Di Teras”, menceritakan Nyonya yag terganggu karena Tuan tidak juga pergi dari depan tersanya. Nyonya merasa nama baiknya akan tercemar dengan mengatakan “ Nama baikku Tuan. Nama baikku nanti rusak,” karena Tuan tak juga pergi dari depan rumahnya. Hingga akhirnya tuan membeli marmer tempatnya berdiri agar tidak lagi diusir oleh Nyonya. Marmer milik Nyonya terpaksa haus dijual karena adanya tawar-menawar harga mermer dan nyonya tidak bisa menggagalkan transaksi jika tak mau diadukan ke pengadilan yang dapat membuat nama baikya tercemar.
Di babak kesatu ini juga terdapat adegan dialog antara Nyonya dengan Ponakan A. pembicaraan mereka membahas warisan tanah pusaka yang dijual kakek Ponakan A yang juga suami dari Nyonya. Ponakan A menganggap bahwa uang hasil penjualan tanah pusaka yang dijanjikan kakeknya akan dibagikan ke cucu-cucunya ada pada Nyonya. Nyonya tidak mengakuinya hingga akhirnya Ponakan A menodongkan pisau ke arah Nyonya. Nyonya pun terpaska mengakui dan memberikan uang kepada Ponakan A karena takutnya nama baiknya tercemar.
Di babak kedua, “Di Ruang Tamu”, terjadi lagi kejadian seperti pada babak satu yaitu adanya transaksi jual beli kursi tamu, juga dengan alasan agar Tuan segera pergi dari rumahnya karena masalah nama baik. Disini uang hasil penjualan kursi tamu diberikan pada Ponakan B dan Ponakan C karena Nyonya tidak ingin nama baiknya tercemar.
Di babak ketiga, "Di Ruang Makan", terjadi pula adanya transaksi jual beli kursi makan, dengan alasan yang tetap sama, yaitu agar tuan segera pergi dari Ruang makan. Begitu selanjutnya hingga ke babak empat. Dari tempat tidur yang dijual hingga lutut Nyonya pun ingin di jual.
Amanat
Amanat yang ingin disampaikan pada drama ini salah satunya adalah juga menjaga nama baik karena kita merupakan makhluk sosial. Selain itu, sifat serakah itu tidak baik karena keserakahan terhadap harta akan menimbulkan perselisihan. Sesama anggota keluarga seharusnya hidup rukun.
Tokoh dan Penokohan
Nyonya adalah seorang tokoh yang memiliki seorang ibu yang tidak dijelaskan dalam ceritanya. Nyonya juga memiliki seorang suami yang sedang dirawat di rumah sakit sehingga dirinya tinggal sendirian di rumah. Nyonya sangat menjaga nama baiknya dengan mengatakan “Ekornya, ekornya…”.
NYONYA
Kejam atau tidak, yang penting aku harus menjaga nama baikku. Coba Tuan piker. Ibuku sedang ada di rumah sakit. Bila seorang istri sendirian lalu didatangi lelaki, Tuan tentu tahu ekornya, bukan?
Tuan adalah tokoh yang hampir selalu mendampingi Nyonya dari setiap inti cerita drama ini. Mempunyai seorang istri dan anak yang suka bermain dengan kursi. Tuan mempunyai watak yang keras dan tidak mau kalah.
TUAN
Sabar sedikit Nyonya. Taksinya! Taksinya belum ada yang lewat.
dan
TUAN
Tunggu sebentar, Nyonya. Saya memang akan pergi juga.
Ponakan A adalah kemenakan suami nyonya. Ponakan A ini mempunyai sifat mau enak sendiri dan tidak ingin ada seorang pun yang menudingnya tidak berbakti pada Datuknya. Ponakan A ingin membuktikan bahwa sampai sekarang sebagai kemenakan, dirinya masih setia dan hormat pada Datuknya.
Ponakan B adalah kemenakan suami nyonya. Ponakan B ini mempunyai sifat mau enak sendiri dan tidak ingin ada seorang pun yang menudingnya tidak berbakti pada Datuknya. Ponakan B ingin membuktikan bahwa sampai sekarang sebagai kemenakan, dirinya masih setia dan hormat pada Datuknya.
Ponakan C adalah kemenakan suami nyonya. Ponakan C ini mempunyai sifat mau enak sendiri dan tidak ingin ada seorang pun yang menudingnya tidak berbakti pada Datuknya. Ponakan B ingin membuktikan bahwa sampai sekarang sebagai kemenakan, dirinya masih setia dan hormat pada Datuknya.
NYONYA
Kata suamiku, kemenakan sekarang hanya tahu enaknya saja. tidak ada lagi kemenakan yang mau merawat Datuknya, kalau tidak ada maksud-maksud tertentu. Katanya lagi, kalau tidak ada berada, masakan tempua bersarang rendah!
Istri adalah istri dari Tuan. Istri ini memiliki sifat yang hampir sama seperti Tuan yakni berwatak keras dan tidak mau kalah.
ISTRI
Kau selalu saja menunda keperluan mereka akan kursi. Aku akan panggil becak!
dan
ISTRI
Yang penting anak-anak kita, bukan harga kursi. (Pergi keluar) becak. Becak. Bawa kursi saya.
Nilai Sosial-Budaya
Di dalam drama ini terdapat nilai-nilai sosial terkait dengan budaya dalam masyrakat. Budaya ketimuran terdapat dalam drama ini, seperti seorang istri yang tidak diperkenankan membawa masuk laki-laki lain ke dalam rumah jika tidak ada suaminya. Kepatuhan seorang istri dalam menjaga nama baiknya dan suaminya adalah budaya Indonesia atau ketimuran.
NYONYA
Tuan mengira teras rumahku ini halte bus!? Tak useh ye! Ayo pergi! jangan berdiri di situ! Pergi! namaku tidak boleh cacat di mata umum. Berapa kali harus kukatakan pada Tuan! Namaku, namaku! Apa semua pedagang barang antic selalu tuli!?
dan
NYONYA
Kejam atau tidak, yang penting aku harus menjaga nama baikku. Coba Tuan piker. Ibuku sedang ada di rumah sakit. Bila seorang istri sendirian lalu didatangi lelaki, Tuan tentu tahu ekornya, bukan?
Selain nilai ketimuran yang ada pada drama, persoalan di dalam masyarakat adalah terkait dengan sifat matrealis ibu-ibu sekarang. Setiap kali adegan dialog antara Nyonya dan Tuan, pasti ada transaksi jua;-beli barang. Nyonya pun menginginkannya, terlihat ketika di saat dia menerima uang dari Tuan.
NYONYA (Menerima uang itu dengan gugup)
Ya Tuhan (mencium uang itu beberapa kali) Jadi, Tuan tidak akan mengatakannya pada siapa pun juga, bukan?
Nama : Wisran Hadi
Tempat, tanggal lahir : Lapai, Padang, Sumatera Barat, 27 Juli 1945
Pendidikan : - ASRI Yogyakarta (1969),
- International Writing Program di Iowa
University, USA (1997),
- mengikuti Observasi Teater Modern Amerika
di USA (1978),
- mengikuti Observasi Teater Modern Amerika
dan Jepang (1986)
Prestasi :
o Pemenang Harapan Ketiga Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Gaung (1975),
o Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Ring (1976),
o Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Anggun Nan Tongga (1976),
o Pemenang Lomba Penulisan Nasah Sandiwara DKJ untuk karyanya Cindua Mato (1997),
o Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Malin Kundang (1978).
o Pemenang LombaPenulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Perguruan (1979),
o Pemenang lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Imam Bonjol (1980),
o Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Pewaris (1981),
o Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Penyeberangan (1984),
o Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Senandung Semenanjung (1985),
o Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya Gading Cempaka (1998),
o Penghargaan Sastra dari Pusat Bahasa atas karyanya Jalan Lurus (1991),
o Penghargaan sastra SEA Write Award dalam karyanya Empat Sandiwara Orang Melayu (2000).
1.2 Riwayat Hidup Wisran Hadi
Dilahirkan di Lapai, Padang, Sumatera Barat, pada 27 Juli 1945. Nama Hadi merupakan singkatan nama orang tuanya, Haji Darwas Idris. Wisran merupakan anak ketiga dari tiga belas bersaudara. Ia dibesarkan dalam lingkungan pendidikan agama Islam yang taat. Ayahnya, H. Darwas Idris, adalah seorang Imam Besar Masjid Muhammadiyah Padang dan juga seorang ahli tafsir terkemuka di Indonesia.
Masa kecilnya banyak dipengaruhi oleh kesenian Minangkabau tradisional, seperti pertunjukan randai dan cerita rakyat Minangkabau. Dia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di kota Padang . Setelah menyelesaikan sekolah guru agama di Padang, Wisran melanjutkan pendidikannya ke Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta dan tamat tahun 1969.
Dia tidak hanya menggeluti dunia lukis dan sastra, tetapi juga memasuki dunia akting dan aktif di berbagai kegiatan kesenian, baik tingkat daerah maupun nasional. Hobinya sebagai penulis membuahkan hasil sebagai penulis drama terkemuka di Indonesia yang memiliki ciri khas kedaerahan. Naskah-naskah drama yang dihasilkan mampu mengantarkannya sebagai pemenang lomba penulisan. Dia memperoleh penghargaan penulisan naskah sandiwara yang diselenggarakan oleh DKJ pada tahun 1975, 1981, 1984, 1985, dan 1998. Tahun 1991, dia menerima penghargaan sebagai seniman teladan dari Pemda Tk II Padang. Wisran juga pernah memperoleh Penghargaan Sastra dari Pusat Bahasa tahun 1978 atas karyanya yang berjudul Jalan Lurus. Selain menulis naskah drama, dia juga menulis, puisi, cerpen, dan novel. Untuk menyalurkan kreativitas generasi Padang dalam dunia teater, Wisran mendirikan sanggar Teater Bumi pada tahun 1978 di Padang.
Saat ini, Wisran lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menulis setelah pensiun dari dosen tamu Fakultas Sastra Universitas Andalas dan INS Kayu Tanam. Istrinya, Upita Agustina, juga seorang penyair. Mereka dikaruniai lima orang anak. Yang menarik dari karya-karya Wisran adalah adanya upaya untuk menghidupkan kembali tradisi dan mitos lama Minangkabau dan Melayu ke dalam bentuk kekinian. Akan tetapi, tidak tunduk kepada pemikiran masyarakatnya. Wisran, dalam karya-karyanya, berupaya mentransformasikan mitos dan nilai-nilai lama Minangkabau yang ada dalam tradisi dan cerita lama Minangkabau dalam bentuk yang baru.
Namanya terpilih sebagai salah satu seniman yang memenangkan penghargaan dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Penulis prosa berdarah Minang ini adalah salah satu seniman yang konsisten berkarya hingga hari tuanya. Ketika menerima penghargaan tersebut pada Kongres Kebudayaan V beberapa waktu lalu. Penghargaan lain yang pernah diterimanya datang dari Kerajaan Thailand berupa SEA Write Award tahun 2000. Ia menjadi penulis Minang kedua yang mendapatkan hadiah bergengsi itu setelah A.A. Navis pada tahun 1992.
Wisran pernah menulis kumpulan naskah drama berjudul Empat Orang Melayu berisi empat naskah drama Senandung Semenanjung, Dara Jingga, Gading Cempaka”dan Cindua Mato”yang membuatnya mendapat penghargaan SEA Write Award 2000. Novelnya yang pernah dibukukan antara lain berjudul Tamu, Iman, Empat Sandiwara Orang Melayu dan Simpang. Cerpen-cerpennya kerap dipublikasikan di media cetak dan dibukukan penerbit Malaysia berjudul Daun-Daun Mahoni Gugur Lagi.
Dia juga pernah mendapat Hadiah Sastra 1991 dari Pusat Pengembangan Bahasa Depdikbud karena karya buku dramanya Jalan Lurus mendapat Hadiah Sastra 1991 dari Pusat Pengembangan Bahasa Depdikbud dan dijadikan buku drama terbaik pada Pertemuan Sastrawan Nusantara 1997. Karyanya dikenal sangat kritis termasuk dalam menulis tentang permasalahan budaya dalam masyarakatnya. Misalnya pada karya dramanya yang berjudul Cindua Mato yang menggambarkan tentang figur Bundo Kanduang sebagai figur agung masyarakat Minangkabau. Juga karya dramanya yang lain Tuanku Imam Bonjol dengan sisi kepahlawanan dan kelemahannya.
Sebanyak 15 karya drama dipilih sebagai pemenang dalam Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta semenjak 1976 s/d. 1985 dan 1998, 2004. 13 karya dramanya yang lain diterbitkan oleh Proyek Pengadaan Buku-buku Sastra Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI Jakarta. 7 karya dramanya telah difilmkan oleh TVRI Palembang, TVRI Padang dan TVRI Jakarta; Empat lakon Perang Paderi, Kau Tunggu Siapa Nilo, Cindra Mata dan Anggun Nan Tongga.
Alamat
Jalan Gelugur Blok H no. 2
Wisma Indah II – Padang 25142
Telp. 0751 7052174
E-Mail : wisranhadi@yahoo.com
1.3 Karya-karya Wisran hadi
o Dua Buah Segi Tiga (1972),
o Sumur Tua (1972),
o Gaung (1975),
o Putri Cendana (drama anak-anak, 1975),
o Angsa-Angsa Bermahkota (drama anak-anak, 1975),
o Kejaran Bungsa (drama anak-anak, 1975),
o Putri Mawar (drama anak-anak, 1975),
o Saijah dan Adinda (drama remaja, 1975),
o Ehm (1975),
o Memuara ke Telaga (1976),
o Ring (1976),
o Tetangga (1977),
o Sandi Ba Sandi (1977),
o Payung Kuning (1977),
o Simpang (1977),
o Astaga (1977),
o Anggun Nan Tongga (1977),
o Cindua Mato (1977),
o Malin Kundang (1978),
o Malin Deman (1978),
o Perguruan (1978),
o Puti Bungsu (1979),
o Tuanku Yayai (1979),
o Imam Bonjol (1980),
o Terminal (operet, 1980),
o Kemerdekaan (1980),
o Baeram kumpulan sandiwara (Baeram, Nilam Sari, Nilonali, Sutan Pamenan, Sabai, dan Istri Kita,1981),
o Pewaris (1981),
o Nurani (1981),
o Titian (1982),
o Perantau Pulau Puti (1982),
o Nyonya-Nyonya (1982),
o Tuanku Nan Renceh (1982),
o Sabai Nan Aluih (naskah randai, 1982),
o Paimbang Dunia (naskah randai, 1982) ,
o Makan Bajamba (naskah randai, 1983),
o Manjau Ari, (naskah randai, 1984),
o Dara Jingga (1984),
o Penyeberangan (1984),
o Senandung Semenanjung (1985),
o Jalan Lurus (1985),
o Drama Perjuangan (1985),
o Teater Elektronik (1985),
o Kebun Tuan (1985),
o Ibu Suri (1988),
o Matri Lini (1988),
o Salonsong (1988),
o Ceramah Alamiah (1989),
o Mandi Angin (1999),
o Empat Sandiwara Orang Melayu (2000),
o Wayang Padang (2006).
1.4 Sinopsis Drama Nyonya-Nyonya
Seorang Tuan pedagang barang antik sedang berdiri di teras depan rumah seorang Nyonya sambil menggerutu sendiri tentang cuaca, keadaan dirinya, dan tentang perilaku orang-orang terhadap dirinya.
Nyonya tersebut mengomel karena Tuan berdiri di terasnya. Ia khawatir keberadaan Tuan di teras rumahnya akan menimbulkan pandangan negatif dari masyarakat. Ia juga mengusir Tuan agar lekas pergi dari teras rumahnya.
Tuan mengelak kekhawatiran Nyonya dengan mengemukakan banyak alasan. Akhirnya Tuan membeli empat buah marmer tempat dia berdiri agar ia bisa bebas berdiri di sana tanpa didesak-desak untuk pergi oleh Nyonya.
Kemudian Ponakan A—keponakan suami Nyonya—datang menagih uang hasil penjualan tanah pusaka. Tanah pusaka milik keluarga mereka telah diserahkan kepada Datuk, suami Nyonya, untuk dijual, namun uang hasil penjualannya tidak dibagi-bagikan kepada keponkan-keponakannya. Karena itu Ponakan A menuntut bagi hasil.
Ia juga mencurigai Nyonya menggunakan harta pusaka itu untuk membangun rumahnya yang mewah. Namun Nyonya mengelak semua tuduhan itu. Ponakan A juga menuduh bahwa penyakit kanker lidah yang kini diderita Datuknya adalah karena kutukan nenek moyang, karena Datuknya telah berani memakan uang penjualan tanah pusaka. Menurutnya, orang yang memakan harta tanah pusaka dan berlaku tidak adil dalam pembagian warisan pasti akan mendapat penyakit yang aneh-aneh.
Ponakan A tetap bersikukuh bahwa Nyonya menyimpan uang penjualan tanah pusaka itu di rumahnya. Hal itu membuat Nyonya marah. Ponakan A kemudian mengeluarkan pisau dari dalam tasnya dan mengancam Nyonya agar memberikan uang. Nyonya kemudian memberikan uang hasil penjualan empat buah mermernya kepada Ponakan A. Terjadilah rebutan pisau, namun akhirnya Ponakan A dapat merebut pisau itu kembali dari tangan Nyonya dan membawa uangnya pergi.
Nyonya yang tidak berhasil mengejar Ponakan A kembali ke ruang tamu dan terkejut mendapati Tuan sudah duduk enak-enakan duduk di kursi ruang tamunya. Ia marah karena Tuan masuk dan duduk di ruang tamunya tanpa izin. Tuan membela diri dengan berbagai macam alasan. Akhirnya Tuan membeli kursi ruang tamu Nyonya agar Nyonya tidak mendesak-desaknya keluar dari ruang tamu.
Istri Tuan kemudian datang sembari marah-marah. Ia memarahi Tuan yang tak kunjung pulang, apalagi ketika ia mengetahui suaminya itu membeli sebuah kursi bekas dengan harga yang menurutnya sangat mahal. Ia menyesalkan sikap Tuan yang menjual kursi di rumahnya—sedangkan anak-anak mereka di rumah sangat menginginkan untuk memiliki kursi—tapi malah membeli sebuah kursi bekas. Dua pasangan suami istri itu terus bertengkar dan pergi.
Ponakan B dan Ponakan C datang menemui Nyonya. Sama seperti Ponakan A, mereka juga menuntut pembagian uang penjualan tanah pusaka. Mereka juga menuduh Nyonya seperti tuduhan Ponakan A. Mereka mengancam Nyonya dengan surat pengakuan dari Datuk, yang berisi pernyataan bahwa uang pusaka telah diserahkan kepada Nyonya. Tapi Nyonya mengelak, ia bersikukuh bahwa rumahnya adalah hasil kerja kerasnya dan ibunya sendiri.
Nyonya akhirnya memberikan sejumlah uang hasil penjualan kursinya kepada Ponakan B dan Ponakan C. Uang itu segera dibagi jadi dua, tapi bagian Ponakan C lebih besar. Ponakan B tidak terima, ia menuntut pembagian yang rata.
Kemudian Ponakan A datang dengan pisau terhunus. Ponakan A juga menuntut pembagian uang itu. Ia mengancam dengan pisau di tangannya. Ponakan C tidak terima, ia juga mengeluarkan pisau yang lebih besar. Demikian juga dengan Ponakan B, ia juga mengeluarkan piasu yang lebih besar lagi dari pisau Ponakan C.
Nyonya berteriak-teriak, mencegah agar mereka tidak berbunuhan. Ia ketakutan dan keluar. Sepeninggalnya Nyonya, ketiga Ponakan lega dan saling bersalaman. Mereka juga tertawa cekikikan. Ponakan A berkata bahwa dengan uang itu, mereka dapat membayar ongkos rumah sakit Datuknya sehingga mereka tidak lagi dituduh sebagai orang yang tak tahu adat. Mereka kemudian berteriak tentang kesetiaan mereka kepada Datuknya.
Tuan datang dan segera duduk di kursi makan. Nyonya yang datang tak berapa lama kemudian merasa terkejut. Mereka kembali beradu argumen. Akhirnya Tuan membeli kursi makan tersebut. Ia membayar kursi itu separuh harga dan berjanji akan melunasi sisanya besok pagi. Nyonya kemudian menyuruh Tuan keluar tapi Tuan marah karena sebagai pemilik kursi ia tidak mau diusir.
Akhirnya Tuan kemudian keluar juga, tapi ternyata ia lupa membawa tasnya. Ketika berbalik ingin mengambil tas, ia mendengar Nyonya mengucapkan kalimat penyesalan karena Tuan datang terlalu pagi sehingga ia tidak sempat gosok gigi. Tuan pun menggoda Nyonya, Nyonya kelabakan dan berlari ke dalam. Tuan akhirnya keluar sambil bernyanyi-nyanyi senang.
Dari arah lain, ketiga ponakan masuk sambil meratap, menyesali nasib Datuknya yang dapat istri cantik tetapi menyia-nyiakan suami. Tapi karena Nyonya tidak ada di rumah ketiganya kemudian pergi dengan kecewa.
Nyonya sedang berdandan di kamar. Ia duduk di kursi riasnya didiringi sebuah nyanyian dari tape recorder. Tiba-tiba Tuan masuk. Nyonya terkejut sekali dan segera mematikan tape recordernya.
Nyonya memarahi Tuan yang seenaknya memasuki kamarnya. Tuan beralasan bahwa ia ingin melunasi hutangnya. Ia mengeluarkan sejumlah uang tapi Nyonya tak peduli. Tuan kemudian menghitung uang itu sambil duduk di atas tempat tidur. Matanya terpaku pada tubuh Nyonya yang sedang berdandan.
Nyonya menyuruh Tuan keluar tapi Tuan mengelak dengan berbagai alasan. Tuan malah menyuruh Nyonya duduk di sampingnya. Nyonya menolak untuk duduk di samping Tuan. Ia menjual tempat tidur dan kursi riasnya agar Tuan segera angkat kaki dari kamarnya. Tuan mulai menawar harga tempat tidur dan kursi rias. Setelah menyerahkan uang, Tuan tak langsung pergi. Ia mengatakan bahwa kursi rias itu telah menjadi miliknya, maka Nyonya tidak berhak menempati milik orang. Nyonya akhirnya berdiri.
Di luar kamar, ketiga ponakan datang sambil meratap tentang kemalangan Datuknya. Kemudian istri Tuan juga datang dan ketiga ponakan itu pun berhenti meratap.
Di dalam kamar, Tuan segera bangkit dan langsung berjongkok di dekat kaki Nyonya. Tuan mengkhawatirkan lutut Nyonya yang bisa bengkak karena kelamaan berdiri. Namun Nyonya tak peduli, ia tetap berdiri. Tuan mengatakan bahwa lutut Nyonya telah bengkak. Nyonya melihat lututnya tapi tetap masa bodoh.
Nyonya-nyonya di luar itu pun juga melihat lututnya sendiri-sendiri.
Tuan mengatakan bahwa betis Nyonya mulai berdarah dan memegang kaki Nyonya. Nyonya menyuruh Tuan untuk melepaskan tanganya. Namun Tuan tidak mau. Nyonya kemudian menjual tumitnya agar Tuan tidak lagi memegang kakinya. Tuan mulai menawar, tapi Nyonya meminta harganya naik. Dan setiap Nyonya meminta kenaikan harga, pegangan Tuan naik ke atas.
Nyonya kemudian berteriak tertahan, dan nyonya-nyonya yang berada di luar kamar ikut berteriak. Nyonya dan Tuan segera sadar bahwa ada orang lain di teras. Keduanya tersentak dan saling berusaha melarikan diri, tapi tidak tahu mau lari ke mana. Akhirnya, mereka berangkulan dan saling melepaskan lagi, kemudian berangkulan lagi.
Nyonya-nyonya di luar mengintip dan tercengang. Mereka marah dan mengejar Tuan dan Nyonya ke dalam sambil menghunus pisau masing-masing. Istri Tuan kemudian datang tergesa dan ketika melihat Tuan dan Nyonya berpelukan, ia kemudian pingsan.
1.5 Apresiasi Drama Nyonya-Nyonya
Tema
Dalam drama ini tema yang diangkat oleh pengarang adalah menjaga nama baik. Nyonya pada drama ini selalu menghindar terhadap tindakan yang dapat mencemarkan nama baiknya. Dia tidak ingin nama baiknya tercemar karena ada seoranng pria yang masuk ke dalam rumahnya, sedangkan rumahnya kosong tidak ada orang tua ataupun suaminya.
NYONYA
Tuan mengira teras rumahku ini halte bus!? Tak useh ye! Ayo pergi! jangan berdiri di situ! Pergi! namaku tidak boleh cacat di mata umum. Berapa kali harus kukatakan pada Tuan! Namaku, namaku! Apa semua pedagang barang antic selalu tuli!?
Latar
Latar dalam drama ini sangat terlihat sekali. Setiap babak berbeda latar tempatnya dan setiap nama babak mencirikan latar tempat drama ini.
Babak kesatu "Di Teras"
NYONYA (Mematikan Tape Recorder dan datang dengan berang menemui Tuan)
Bagus sekali, Tuan! Bagus. Tenu Tuan sudah menyusun alas an pula untuk dapat berdiri di teras rumahku ini. Hari telah malam, taksi tidak ada yang lewat, ramalan TV meleset dan sebagainya, dan sebagainya! Apa kata orang-orang itu nanti, kalau mereka melihat Tuan terus berdiri di sini. Kalau disangka Tuan sedang bermain drama ya…. Mungkin tidak apa-apa. Tapi, kalau mereka menyangka Tuan sedang mengintai saya yang sedang berdandan di kamar kan susah. Ekor persoalannya, Tuan. Ekornya.
Babak kedua "Di Ruang Tamu"
TUAN DATANG DAN LANGSUNG DUDUK DI KURSI. DIA DUDUK DENGAN SANGAT ENAK. SEMENTARA ITU, NYONYA DATANG TERENGAH-ENGAH. DIA KESAL SEKALI KARENA TIDAK BERHASIL MENGEJAR PONAKAN A. DIA TERKEJUT MELIHAT TUAN SUDAH DUDUK DI RUANG TAMU. LALU, SEMUA KEKESALANNYA ITU DILAMPIASKANNYA PADA TUAN.
Babak ketiga "Di Ruang Makan"
TUAN DATANG DAN SEGERA DUDUK DENGAN ENAKNYA DI ATAS KURSI MAKAN, DIIRINGI LAGU YANG LUCU DARI TAPE RECORDER. NYONYA DATANG DAN TERKEJUT MELIHAT TUAN TELAH DUDUK DI RUANG MAKAN.
Babak keempat, “Di Dalam Kamar”
NYONYA BERDANDAN DI DALAM KAMAR, DIIRINGI SEBUAH NYANYIAN DARI TAPE RECORDER. TIBA-TIBA TUAN MASUK. NYONYA TERKEJUT SEKALI DAN SEGERA MEMATIKAN TAPE RECORDERNYA.
Latar sosial dan budaya dalam drama ini adalah budaya Minang yang cukup kental, terlihat dari dialog antartokoh.
NYONYA
Kenapa datang tergesa? Kamu dari rumah sakit? Apa Datuk (kakek) mu memerlukan sesuatu? Apa dokter mengatakan Datukmu akan dioperasi? Katakan cepat. Saya cemas sekali dengan kedatanganmu yang tiba-tiba begini.
dan
BERTIGA (Berteriak lebih keras setelah menyimpan pisau kedalam tas)
Kamilah pewaris adat negeri ini! Tak lekang dek panas! Tak lapuk dek hujan! (Lalu keluar sambil bergoyang pinggul) Ekornya…. Ekornya…. Ekornya…..
Alur
Drama Nyonya-Nyonya karya Wisran Hadi ini hanya memiliki satu alur saja, yaitu alur maju. Drama ini terdiri dri dari empat babak. Dari setiap babak ke babak berikutnya merupakan kelanjutan cerita dari babak sebelumnya. Kejadian yang terjadi pada babak kedua juga sebagai sebab-akibat dari kejadian di babak pertama, begitu seterusnya.
Babak kesatu, “Di Teras”, menceritakan Nyonya yag terganggu karena Tuan tidak juga pergi dari depan tersanya. Nyonya merasa nama baiknya akan tercemar dengan mengatakan “ Nama baikku Tuan. Nama baikku nanti rusak,” karena Tuan tak juga pergi dari depan rumahnya. Hingga akhirnya tuan membeli marmer tempatnya berdiri agar tidak lagi diusir oleh Nyonya. Marmer milik Nyonya terpaksa haus dijual karena adanya tawar-menawar harga mermer dan nyonya tidak bisa menggagalkan transaksi jika tak mau diadukan ke pengadilan yang dapat membuat nama baikya tercemar.
Di babak kesatu ini juga terdapat adegan dialog antara Nyonya dengan Ponakan A. pembicaraan mereka membahas warisan tanah pusaka yang dijual kakek Ponakan A yang juga suami dari Nyonya. Ponakan A menganggap bahwa uang hasil penjualan tanah pusaka yang dijanjikan kakeknya akan dibagikan ke cucu-cucunya ada pada Nyonya. Nyonya tidak mengakuinya hingga akhirnya Ponakan A menodongkan pisau ke arah Nyonya. Nyonya pun terpaska mengakui dan memberikan uang kepada Ponakan A karena takutnya nama baiknya tercemar.
Di babak kedua, “Di Ruang Tamu”, terjadi lagi kejadian seperti pada babak satu yaitu adanya transaksi jual beli kursi tamu, juga dengan alasan agar Tuan segera pergi dari rumahnya karena masalah nama baik. Disini uang hasil penjualan kursi tamu diberikan pada Ponakan B dan Ponakan C karena Nyonya tidak ingin nama baiknya tercemar.
Di babak ketiga, "Di Ruang Makan", terjadi pula adanya transaksi jual beli kursi makan, dengan alasan yang tetap sama, yaitu agar tuan segera pergi dari Ruang makan. Begitu selanjutnya hingga ke babak empat. Dari tempat tidur yang dijual hingga lutut Nyonya pun ingin di jual.
Amanat
Amanat yang ingin disampaikan pada drama ini salah satunya adalah juga menjaga nama baik karena kita merupakan makhluk sosial. Selain itu, sifat serakah itu tidak baik karena keserakahan terhadap harta akan menimbulkan perselisihan. Sesama anggota keluarga seharusnya hidup rukun.
Tokoh dan Penokohan
Nyonya adalah seorang tokoh yang memiliki seorang ibu yang tidak dijelaskan dalam ceritanya. Nyonya juga memiliki seorang suami yang sedang dirawat di rumah sakit sehingga dirinya tinggal sendirian di rumah. Nyonya sangat menjaga nama baiknya dengan mengatakan “Ekornya, ekornya…”.
NYONYA
Kejam atau tidak, yang penting aku harus menjaga nama baikku. Coba Tuan piker. Ibuku sedang ada di rumah sakit. Bila seorang istri sendirian lalu didatangi lelaki, Tuan tentu tahu ekornya, bukan?
Tuan adalah tokoh yang hampir selalu mendampingi Nyonya dari setiap inti cerita drama ini. Mempunyai seorang istri dan anak yang suka bermain dengan kursi. Tuan mempunyai watak yang keras dan tidak mau kalah.
TUAN
Sabar sedikit Nyonya. Taksinya! Taksinya belum ada yang lewat.
dan
TUAN
Tunggu sebentar, Nyonya. Saya memang akan pergi juga.
Ponakan A adalah kemenakan suami nyonya. Ponakan A ini mempunyai sifat mau enak sendiri dan tidak ingin ada seorang pun yang menudingnya tidak berbakti pada Datuknya. Ponakan A ingin membuktikan bahwa sampai sekarang sebagai kemenakan, dirinya masih setia dan hormat pada Datuknya.
Ponakan B adalah kemenakan suami nyonya. Ponakan B ini mempunyai sifat mau enak sendiri dan tidak ingin ada seorang pun yang menudingnya tidak berbakti pada Datuknya. Ponakan B ingin membuktikan bahwa sampai sekarang sebagai kemenakan, dirinya masih setia dan hormat pada Datuknya.
Ponakan C adalah kemenakan suami nyonya. Ponakan C ini mempunyai sifat mau enak sendiri dan tidak ingin ada seorang pun yang menudingnya tidak berbakti pada Datuknya. Ponakan B ingin membuktikan bahwa sampai sekarang sebagai kemenakan, dirinya masih setia dan hormat pada Datuknya.
NYONYA
Kata suamiku, kemenakan sekarang hanya tahu enaknya saja. tidak ada lagi kemenakan yang mau merawat Datuknya, kalau tidak ada maksud-maksud tertentu. Katanya lagi, kalau tidak ada berada, masakan tempua bersarang rendah!
Istri adalah istri dari Tuan. Istri ini memiliki sifat yang hampir sama seperti Tuan yakni berwatak keras dan tidak mau kalah.
ISTRI
Kau selalu saja menunda keperluan mereka akan kursi. Aku akan panggil becak!
dan
ISTRI
Yang penting anak-anak kita, bukan harga kursi. (Pergi keluar) becak. Becak. Bawa kursi saya.
Nilai Sosial-Budaya
Di dalam drama ini terdapat nilai-nilai sosial terkait dengan budaya dalam masyrakat. Budaya ketimuran terdapat dalam drama ini, seperti seorang istri yang tidak diperkenankan membawa masuk laki-laki lain ke dalam rumah jika tidak ada suaminya. Kepatuhan seorang istri dalam menjaga nama baiknya dan suaminya adalah budaya Indonesia atau ketimuran.
NYONYA
Tuan mengira teras rumahku ini halte bus!? Tak useh ye! Ayo pergi! jangan berdiri di situ! Pergi! namaku tidak boleh cacat di mata umum. Berapa kali harus kukatakan pada Tuan! Namaku, namaku! Apa semua pedagang barang antic selalu tuli!?
dan
NYONYA
Kejam atau tidak, yang penting aku harus menjaga nama baikku. Coba Tuan piker. Ibuku sedang ada di rumah sakit. Bila seorang istri sendirian lalu didatangi lelaki, Tuan tentu tahu ekornya, bukan?
Selain nilai ketimuran yang ada pada drama, persoalan di dalam masyarakat adalah terkait dengan sifat matrealis ibu-ibu sekarang. Setiap kali adegan dialog antara Nyonya dan Tuan, pasti ada transaksi jua;-beli barang. Nyonya pun menginginkannya, terlihat ketika di saat dia menerima uang dari Tuan.
NYONYA (Menerima uang itu dengan gugup)
Ya Tuhan (mencium uang itu beberapa kali) Jadi, Tuan tidak akan mengatakannya pada siapa pun juga, bukan?
Langganan:
Postingan (Atom)